Page 247 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 247

INI SERIUS GAES, MENAKER IDA ANCAM SANKSI TEGAS PENGUSAHA TAK BAYAR
              THR, ALASAN EKONOMI SULIT ENGGAK LAKU
              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  memastikan  pengusaha  yang  melanggar
              aturan Tunjangan Hari Raya (THR) bakal kena sanksi tegas. "Sebelumnya kami konsentrasi pada
              layanan informasi dan konsultasi terkait THR, maka sekarang kami perkuat aspek pengawasan
              dan  penegakan  hukum  terhadap  pelanggaran  aturan  THR,"  kata  Ida  seperti  dikutip
              CNNIndonesia, Sabtu (8/5/2021).

              Menaker Ida mengungkapkan, memasuki periode H-7 Lebaran, Kementerian Ketenagakerjaan
              (Kemnaker)  memperkuat  aspek  pengawasan  dan  penegakan  hukum  untuk  memastikan
              pembayaran THR bagi pekerja/buruh berjalan lancar dan sesuai ketentuan.

              Untuk  itu,  ia  meminta  gubernur,  wali  kota,  dan  bupati  untuk  turun  tangan  langsung  dalam
              menyelesaikan setiap pengaduan THR yang masuk ke Posko THR yang telah dibentuk, serta tak
              segan memberikan sanksi sesuai kewenangannya apabila ada yang melanggar.
              Posko Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan 2021 Kemnaker menerima 1.569 laporan selama
              20 April-6 Mei 2021. Jumlah tersebut terdiri dari 670 konsultasi THR dan 899 pengaduan THR.

              Ada berbagai kategori sektor usaha yang masuk dalam laporan posko THR 2021 di antaranya
              adalah  ritel,  jasa  keuangan  dan  perbankan,  konstruksi,  manufaktur,  migas,  alat  kesehatan,
              industri makanan dan minuman, dll.

              Beberapa permasalahan pembayaran THR yang diadukan antara lain THR tidak dibayar sama
              sekali, dibayar sebagian, dibayar bertahap dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, dibayar
              bukan dalam bentuk uang, dan perusahaan tidak mampu karena terdampak pandemi COVID-
              19.

              Sementara  itu,  Sekjen  Kemnaker,  Anwar  Sanusi,  mengatakan  Kemnaker  mengerahkan
              Pengawas  Ketenagakerjaan  yang  berada  di  tingkat  pusat  dan  daerah  untuk  mengawasi
              pelaksanaan  pembayaran  THR.  "Kami  menindaklanjuti  pengaduan  dalam  Posko  THR  secara
              periodik,  kemudian  langsung  berkoordinasi  dengan  dinas-dinas  ketenagakerjaan  untuk
              memerintahkan  pengawas  ketenagakerjaan  melakukan  pemeriksaan  pelaksanaan  THR,"
              ujarnya.
              Anwar  juga  menyampaikan  bagi  perusahaan  yang  terdampak  covid-19  dan  tidak  mampu
              memenuhi pembayaran THR, didorong untuk melakukan dialog untuk pelaksanaan pembayaran
              THR keagamaan dengan tetap mengacu pada peraturan perundangan.

              Ia juga mengingatkan Pengawas Ketenagakerjaan di setiap provinsi, jika terdapat perusahaan
              yang  tidak  mampu  membayarkan  THR  tujuh  hari  sebelum  hari  raya,  maka  harus  ada
              kesepakatan tertulis bipartit antara pengusaha dan pekerja untuk jangka waktu pembayarannya.

              Kesepakatan tersebut dibuat secara tertulis juga harus didukung dengan bukti laporan keuangan
              2 tahun terakhir dan memuat waktu pembayaran THR Keagamaan dengan syarat paling lambat
              dibayar  sehari  (H-1)  sebelum  Hari  Raya  Lebaran.  "Dalam  hal  THR  keagamaan  tidak  dibayar
              sesuai  kesepakatan  dan  atau  kesepakatan  pembayar  THR  di  bawah  ketentuan  perundang-
              undangan, maka pengawas akan melakukan pengawasan pelaksanaan pembayaran THR, berupa
              nota  pemeriksaan  sampai  dengan  rekomendasi  kepada  pejabat  berwenang  pada
              kementerian/lembaga  atau  daerah  setempat  untuk  pengenaan  sanksi  administratifnya,"
              jelasnya.

              Pengusaha yang terlambat membayar THR keagamaan wajib membayar denda sebesar 5 persen
              dari total THR yang harus dibayar sejak berakhirnya batas waktu kewajiban pengusaha untuk
              membayar.
                                                           246
   242   243   244   245   246   247   248   249   250   251   252