Page 255 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 255

Fauziyah meminta para gubernur, wali kota, dan bupati untuk turun tangan langsung dalam
              menyelesaikan setiap pengaduan THR yang masuk ke Posko THR yang telah dibentuk, serta tak
              segan memberikan sanksi sesuai kewenangannya bila terjadi pelanggaran aturan THR.

              "Sebelumnya kita konsentrasi pada layanan informasi dan konsultasi terkait THR, maka sekarang
              kita  perkuat  aspek  pengawasan  dan  penegakan  hukum  terhadap  pelanggaran  aturan  THR",
              ujarnya, di Jakarta, Jumat (07/05/2021).

              Posko THR Keagamaan 2021 Kemnaker mencatat, terdapat 1.569 laporan yang masuk selama
              kurun waktu 20 April hingga 6 Mei 2021. Jumlah tersebut terdiri dari 670 konsultasi THR dan
              899 pengaduan THR. Berbagai kategori sektor usaha yang masuk dalam laporan posko THR
              2021  di  antaranya  ritel,  jasa  keuangan  dan  perbankan,  konstruksi,  manufaktur,  migas,  alat
              kesehatan, serta industri makanan dan minuman.

              Beberapa  permasalahan  yang  diadukan  antara  lain  THR  tidak  dibayar  sama  sekali,  dibayar
              sebagian, dibayar bertahap dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, dibayar bukan dalam
              bentuk uang, serta perusahaan tidak mampu karena terdampak pandemi COVID-19.

              Sekretaris Jenderal Kemnaker Anwar Sanusi mengatakan, Kemnaker mengerahkan Pengawas
              Ketenagakerjaan  yang  berada  di  tingkat  pusat  dan  daerah  untuk  mengawasi  pelaksanaan
              pembayaran THR tersebut.
              "Kita  langsung  menindaklanjuti  pengaduan  dalam  Posko  THR  secara  periodik,  kemudian
              langsung berkoordinasi dengan dinas-dinas ketenagakerjaan untuk memerintahkan pengawas
              ketenagakerjaan melakukan pemeriksaan pelaksanaan THR. Ditjen Binwasnaker dan K3 telah
              melakukan  koordinasi  dengan  seluruh  Kepala  Dinas  Ketenagakerjaan,  Pengawas
              Ketenagakerjaan, dan Mediator di seluruh Indonesia melalui virtual untuk mengkoordinasikan
              langkah-langkah penegakan hukum pelaksanaan THR", ujar Anwar.

              Anwar juga menyampaikan bahwa bagi perusahaan yang terdampak COVID-19 dan tidak mampu
              memenuhi pembayaran THR, didorong untuk melakukan dialog untuk pelaksanaan pembayaran
              THR keagamaan dengan tetap mengacu pada peraturan perundangan.

              Lebih lanjut, Anwar mengingatkan kepada Pengawas Ketenagakerjaan di setiap provinsi, jika
              terdapat perusahaan yang tidak mampu membayarkan THR tujuh hari sebelum hari raya, maka
              harus  ada  kesepakatan  tertulis  bipartit  antara  pengusaha  dan  pekerja  untuk  jangka  waktu
              pembayarannya. Kesepakatan tersebut dibuat secara tertulis dan harus didukung dengan bukti
              laporan keuangan dua tahun terakhir dan memuat waktu pembayaran THR Keagamaan dengan
              syarat paling lambat dibayar sehari (H-1) sebelum Hari Raya Lebaran.

              "Dalam hal THR keagamaan tidak dibayar sesuai kesepakatan dan/atau kesepakatan pembayar
              THR di bawah ketentuan perundang-undangan, maka pengawas akan melakukan pengawasan
              pelaksanaan pembayaran THR, berupa nota pemeriksaan sampai dengan rekomendasi kepada
              pejabat berwenang pada kementerian/lembaga atau daerah setempat untuk pengenaan sanksi
              administratifnya", ujarnya.
              Anwar juga mengingatkan bahwa terdapat denda bagi pengusaha yang terlambat membayar
              THR keagamaan sebesar lima persen dari total THR yang harus dibayar sejak berakhirnya batas
              waktu  kewajiban  pengusaha  untuk  membayar.Pengusaha  yang  tidak  membayar  THR  dalam
              waktu yang ditentukan juga dapat dikenakan sanksi administratif sesuai ketentuan peraturan
              perundang-undangan.  Sanksi  tersebut  dapat  berupa  teguran  tertulis,  pembatasan  kegiatan
              usaha, penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi, serta pembekuan kegiatan
              usaha. (set).




                                                           254
   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259   260