Page 603 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 603

lainnya  (60,47%)  tidak  memperoleh  THR.  Mereka  itu  ialah  yang  bekerja  di  sektor  informal.
              Bahkan, dampak pandemi mengakibatkan pekerja formal menurun, sedangkan pekerja informal
              meningkat selama Agustus 2019-Agustus 2020.

              Pekerja formal turun dari 44,12% (Agustus 2019) menjadi 39,53% (Agustus 2020), sedangkan
              pekerja informal meningkat dari 55,88% (Agustus 2019) menjadi 60,47% (Agustus 2020). Hal
              itu sekaligus mengisyaratkan bahwa pekerja formal yang menerima THR pada 2021 jumlahnya
              berpotensi menurun.

              Pekerja informal memang masih memiliki peluang memperoleh THR atas kemurahan hati atau
              kesepakatan  secara  bipartit  sebelumnya,  antara  pemberi  kerja  dan  penerima  kerja.  Namun,
              pekerja informal yang mendapat THR dari pemberi kerja itu terbilang jarang sehingga jumlahnya
              ditengarai  relatif  kecil.  Menurut  status  pekerjaan,  pekerja  informal  yang  menyandang  status
              sebagai pengusaha dalam menghadapi Lebaran dapat mengusahakannya secara mandiri. Meski
              demikian, akibat dampak pandemi, para pengusaha itu tidak mudah mengalokasikan dana untuk
              menyambut Lebaran.

              Yang termasuk pengusaha di sektor informal itu ialah mereka yang berusaha sendiri, berusaha
              dibantu buruh tidak tetap dan berusaha dibantu buruh tetap yang jumlahnya 39,16% dari total
              pekerja di Tanah Air. Namun, bagi pekerja informal yang berstatus sebagai pekerja keluarga
              tidak dibayar, pekerja bebas di nonpertanian dan pekerja bebas di pertanian dengan jumlah
              sebanyak  24,47%  dari  total  pekerja,  yang  pendapatannya  bergantung  pada  pemberi  kerja,
              diperkirakan  cukup  sulit  mengalokasikan  anggaran  untuk  menghadapi  Lebaran.  Hal  itu
              disebabkan  untuk  memenuhi  kebutuhan  hidup  sehari-hari  saja  terbilang  sulit  bagi  pekerja
              informal karena pendapatan mereka relatif kecil. Tanpa THR, pekerja informal kerap menyiasati
              dengan cara melakukan coping strategy dalam menghadapi Lebaran. Upaya yang dilakukan ialah
              berutang dan menjual barang berharga. Hal itu tentunya akan kian menambah beban kehidupan
              pekerja  informal  yang  sebagian  besar  di  antaranya  berstatus  sebagai  penduduk  miskin.
              Akibatnya, derajat kemiskinan pekerja informal berpotensi kian dalam dan semakin parah seusai
              Lebaran.

              Perlu upaya Atas dasar itu, pemerintah perlu mencari terobosan agar pekerja informal yang tidak
              memperoleh THR dapat merayakan Lebaran tanpa terbebani oleh utang dan terjualnya barang
              berharga. Untuk itu, perlu dilakukan sedikitnya tiga hal. Pertama, pemerintah perlu melakukan
              pengendalian harga agar tidak melonjak tajam menjelang Lebaran. Upaya yang dilakukan ialah
              memastikan  kecukupan  pasokan,  kelancaran  distribusi,  dan  tata  niaga  sejumlah  komoditas
              kebutuhan  pokok.  Termasuk  di  dalamnya  pemberlakuan  operasi  pasar  murah  dengan
              menerapkan protokol kesehatan.
              Pengendalian harga itu amat membantu daya beli pekerja informal dan penduduk miskin dalam
              memenuhi kebutuhan selama Lebaran. Kedua, mendorong penguatan solidaritas sosial untuk
              membantu pekerja informal dan penduduk miskin. Sangat diharapkan, solidaritas sosial itu tidak
              hanya  bersifat  pemberian  zakat,  tapi  juga  bantuan  sukarela  dari  mereka  yang  memiliki
              kemampuan  berlebih.  Hal  itu  disebabkan  kian  melebarnya  ketimpangan  pendapatan  yang
              ditunjukkan dengan meningkatnya angka rasio Gini di masa pandemi.

              Rilis  BPS  tentang  tingkat  ketimpangan  pengeluaran  penduduk  Indonesia  (15/2/2021)
              menyebutkan, rasio Gini meningkat dari 0,381 pada Maret 2020 menjadi 0,385 pada September
              2020. Meningkatnya angka rasio Gini itu mengisyaratkan distribusi pendapatan kian timpang.
              Pendapatan  penduduk  20%  terkaya  berdasarkan  proksi  pengeluaran  menurut  ukuran  Bank
              Dunia  semakin  meningkat.  Tercatat,  pengeluaran  20%  penduduk  terkaya  meningkat  dari
              45,49% pada Maret 2020 menjadi 46,22% pada September 2020 dari total pengeluaran di Tanah
              Air.  Ketiga,  mempercepat  pemulihan  ekonomi  yang  disertai  dengan pen-ciptaan  kesempatan
              kerja. Terutama, bagi pekerja informal dan pekerja yang mengalami kebangkrutan usaha dan


                                                           602
   598   599   600   601   602   603   604   605   606   607   608