Page 723 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 723
THR bagi pekerja merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan pekerja dan keluarganya dalam
merayakan hari raya keagamaan.
"Berdasarkan PP Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan dan Peraturan Menaker Nomor 6
tahun 2016 tentang THR bagi pekerja di perusahaan, pemberian THR merupakan kewajiban
yang harus dilaksanakan oleh pengusaha kepada pekerja," ujar Ida dalam konferensi pers virtual
di Jakarta, Senin (12/4/2021).
Berdasarkan kedua aturan tersebut, THR dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa
hal."Pertama, THR Keagamaan diberikan kepada pekerja/buruh yang telah mempunyai masa
kerja 1(satu) bulan secara terus menerus atau lebih dan THR Keagamaan diberikan kepada
pekerja/buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan pengusaha berdasarkan perjanjian
kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu," jelas Ida.
Dia pun menjelaskan terkait besaran THR yang kemudian diperoleh oleh pekerja/buruh. Bagi
pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan
THR sebesar 1 bulan upah. Bagi pekerja yang telah mempunyai masa kerja satu bulan secara
terus menerus kurang dari 12 bulan, diberikan secara proporsional dengan perhitungan jumlah
masa kerja per 12 dikalikan 1 bulan upah. "Bagi pekerja yang bekerja berdasarkan perjanjian
kerja harian, ada hitungannya tersendiri," ucap Ida.
Bagi pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan dihitung
berdasarkan masa kerjanya juga. Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan
atau lebih, upahnya 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan
terakhir sebelum hari raya keagamaan. Sementara itu, pekerja/buruh yang telah mempunyai
masa kerja kurang dari 12 bulan, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang
diterima tiap bulan selama masa kerja. "THR Keagamaan wajib dibayarkan paling lambat 7 hari
sebelum hari raya keagamaan," pungkas Ida.
(nng).
722

