Page 14 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2021
P. 14
Ada sektor energi, kesehatan, keamanan, logistik dan transportasi, industri makanan dan
minuman serta penunjangnya, petrokimia, semen, objek vital nasional, penanganan bencana,
proyek strategis nasional, konstruksi, utilitas dasar (listrik dan air), serta industri pemenuhan
kebutuhan pokok masyarakat.
"Nah, yang menjadi masalah, sektor esensialnya itu juga banyak banget," kata epidemiolog
Griffth University Australia, Dicky Budiman, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (1/7/2021).
Perusahaan minuman bersoda tempat Gunawan bekerja jadi contoh bagaimana perusahaan
memanfaatkan celah peraturan itu.
Apakah produk minuman bersoda dapat dikategorikan sebagai sektor kritikal untuk memenuhi
kebutuhan pokok warga? Celah peraturan soal Instruksi WFH bukan cuma soal kategori sektor
esensial dan kritikal yang terlalu luas, melainkan juga soal jenis pekerjaan yang tak diatur agar
dilakukan secara jarak jauh padahal memungkinkan.
Situasi setali tiga uang dialami oleh Cahya, pegawai di suatu agensi telemarketing. Agensi
tersebut kini menjalani kerja sama dengan pemerintah. Cahya bekerja sebagai operator call-
center salah satu program pemerintah itu.
"Gue seharusnya bisa WFH, tapi WFH diprioritaskan untuk yang sakit dan punya hasil swab positif
Covid-19. Jadi selama lo kelihatan enggak ada batuk, apalagi sudah vaksin, ya dianggap sehat
dan mampu WFO," kata Cahya sambil tertawa.
Cahya warga Tangerang Selatan, sementara kantornya beralamat di Ibukota. Ia bercerita,
sejumlah koleganya juga tinggal di luar Jakarta.
Keadaan serbasulit sebab jalan-jalan protokol telah disekat oleh aparat, sehingga ia dan kawan-
kawan mesti mencari jalan-jalan tikus. Untuk menggunakan angkutan umum pun ada rasa was-
was.
"Jam operasional kerja kami tetap 9 jam. Pulang malam jam 20.00 tuh ga keburu," kata dia.
Cahya merasa, sebetulnya kantor bisa saja bekerja dari rumah karena bertugas sebagai operator
call-center. Zaman serbadigital tentu memungkinkan pekerjaan ini diakses dari mana saja,
termasuk dari rumah.
Namun, kantor disebutnya tak berkenan memodali beberapa perlengkapan yang diperlukan
untuk membantu pekerjaan itu, dimulai dari sesederhana laptop.
"Lebih seramnya lagi, misal ada si A flu, begitu tes antigen dan PCR hasilnya positif. Kita yang
habis kontak fisik tetap saja harus masuk karena antigen kita negatif, padahal kan bisa jadi OTG.
Dan beberapa kali terjadi, hari ini masuk, kerja biasa, lalu drop dan pas antigen ulang ternyata
positif," tutur Cahya.
"Satu lantai itu ada beberapa ruangan. Ruangan gue sendiri yang positif udah hampir 10 orang,
gila, dan disemprot disinfektan cuma 2 kali," lanjutnya.
Lain lagi dengan Alex, pegawai perusahaan multinasional raksasa kelapa sawit yang kini juga
merambah industri agribisnis. Perusahaan tersebut kebetulan juga menjual sejumlah produk
sembako kelas premium.
Alex tetap harus ke kantor. Padahal, ia tak terlibat dalam urusan produksi. Ia mesti mengurus
dokumen-dokumen legal perkantoran yang harus dikebut demi mengejar perizinan Undang-
Undang Cipta Kerja.
"Perusahaan pakai acuan pergub yang sektor kritikal karena ada produk sembako," lanjutnya.
13

