Page 138 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 MARET 2021
P. 138
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono memastikan
persoalan ketenagakerjaan masih menjadi amunisi andalan untuk melakukan kampanye hitam
terhadap industri kelapa sawit di kancah internasional. Khususnya terkait permasalahan yang
menimpa kelompok pekerja perempuan dan anak.
"Jadi, masih banyak isu yang bernuansa kan ketenagakerjaan di sektor sawit yang kemudian
menjadi alat untuk kampanye negatif," ungkapnya dalam webinar bertajuk Perlindungan Pekerja
Perempuan di Perkebunan Sawit, Selasa (23/3).
Bos Gapki ini mengungkapkan, sorotan akan persoalan ketenagakerjaan terhadap kelompok
perempuan dan anak sendiri pertama kali disorot oleh dunia internasional sejak 2016 lalu.
Saat itu, ada salah satu lembaga pemantau hak asasi manusia, Amnesty International yang
mengendus adanya kerja paksa yang melibatkan anak-anak di perkebunan sawit.
"Itulah sebenarnya yang muncul 2016 kemudian beberapa isu lainnya muncul belakangan,"
terangnya.
Dia menambahkan, persoalan ketenagakerjaan lainnya yang menyedot perhatian internasional
adalah pelecehan seksual terhadap pekerja sawit perempuan, yang kemudian kembali digunakan
sebagai alat untuk melakukan kampanye negatif terhadap industri sawit. Sebagaimana yang
ramai diberitakan kantor media asing pada 2020 lalu.
"Amerika, bahkan sempat melarang sawitnya Malaysia karena dianggap perkebunan kelapa sawit
di Malaysia itu melakukan kerja paksa terhadap anak dan pelecehan," terangnya.
Oleh karena itu, Gapki bersama pemangku kebijakan terkait lainnya terus berbenah diri untuk
mewujudkan sistem kerja di lingkungan industri dan perkebunan sawit yang lebih ramah
terhadap kelompok perempuan dan anak. Sehingga pemenuhan hak terhadap dua kelompok
pekerja rentan tersebut bisa lebih baik.
"Ini lah yang menjadi konsern kita di industri sawit Indonesia. Gapki sejak 3 tahun terakhir kita
bekerja sama dengan CNV Internasional, Serikat Buruh Federasi Hukatan, bahkan ILO," ucap dia
menekankan.
Reporter: Sulaeman Sumber: Merdeka.com.
137

