Page 140 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 MARET 2021
P. 140

LINGKUNGAN KERJA INDUSTRI SAWIT BELUM AMAN UNTUK PEREMPUAN

              Direktur Persyaratan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), S Junaedah mengakui,
              kelompok pekerja perempuan memiliki risiko bahaya lebih dalam melakukan segala aktivitas di
              lingkungan pekerjaan. Khususnya di sektor perkebunan kelapa sawit.

              "Kami  masih  melihat  banyak  perempuan  yang  berpotensi  terekspos  pada  sejumlah  bahaya
              potensi dalam dunia kerja. Khususnya pada sektor perkebunan kelapa sawit," ungkapnya dalam
              webinar bertajuk Perlindungan Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit, Selasa (23/3).

              Dia  mengungkapkan,  setidaknya  ada  tiga  risiko  bahaya  yang  kerap  mengintai  pekerja
              perempuan  di  perkebunan  kelapa  sawit.  Pertama,  risiko  bahaya  terkait  Kesehatan  dan
              Keselamatan Kerja (K3).

              "Terdapat beragam risiko yang berpotensial bagi pekerja perempuan dari bahaya pelanggaran
              K3. Seperti terbatasnya fasilitas keselamatan diri, jam kerja panjang, hingga tidak adanya cuti
              libur yang diberikan dan lainnya," ucapnya.

              Kedua,  bahaya  terkait  kesehatan  reproduksi.  Sebab,  masih  terdapatnya  oknum  manajemen
              perusahaan  dengan  tidak  memperdulikan  hakikat  seorang  wanita  yang  kerap  melalui  fase
              reproduksi seperti haid dan hamil.

              "Jadi, pekerja perempuan ada yang tidak diperbolehkan menggunakan cuti haid ataupun istirahat
              melahirkan," terangnya.
              Terkahir,  pelecehan  dan  kekerasan.  Menurutnya,  praktik  ini  terjadi  lantaran  masih  adanya
              anggapan posisi lemah yang dimiliki oleh pekerja perempuan.

              Upaya Pemerintah Dia menyebut, berbagai risiko yang menimpa korban pekerja perempuan ini
              lebih  disebabkan  oleh  rendahnya  tingkat  pengetahuan  atas  informasi  pemenuhan  hak-hak
              pekerja. "Jadi, banyak pihak belum mengetahui kegiatan-kegiatan diskriminasi itu," terangnya.

              Oleh  karena  itu,  Kemnaker  terus  aktif  mensosialisasikan  berbagai  aturan-aturan  terhadap
              perusahaan dan pekerja terkait pemenuhan hak dan kewajiban. Tujuannya untuk mewujudkan
              iklim kerja yang kondusif dan non diskriminatif.

              "Artinya, kita mengatur agar lingkungan kerja tidak diskriminatif. Praktik ini mulai dari rekrutmen,
              pelaksanaan pekerjaan di tempat kerja, pelatihan, hingga jaminan sosial dan pensiun," tegasnya.

              [bim].

























                                                           139
   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145