Page 137 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 MARET 2021
P. 137

neutral - Joko Supriyono (Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah) Ini lah yang
              menjadi konsern kita di industri sawit Indonesia. Gapki sejak 3 tahun terakhir kita bekerja sama
              dengan CNV Internasional, Serikat Buruh Federasi Hukatan, bahkan ILO



              Ringkasan

              Direktur  Persyaratan  Kerja  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  S  Junaedah  mengakui
              kelompok pekerja perempuan memiliki risiko bahaya lebih dalam melakukan segala aktivitas di
              lingkungan  pekerjaan.  Khususnya  di  sektor  perkebunan  kelapa  sawit  .  "Kami  masih  melihat
              banyak perempuan yang berpotensi terekspos pada sejumlah bahaya potensi dalam dunia kerja.
              Khususnya  pada  sektor  perkebunan  kelapa  sawit,"  ungkapnya  dalam  webinar  bertajuk
              Perlindungan Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit, Selasa (23/3).



              KEMNAKER UNGKAP 3 RISIKO BAHAYA DIALAMI PEKERJA PEREMPUAN DI
              PERKEBUNAN SAWIT

              Jakarta  -  Direktur  Persyaratan  Kerja  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  S  Junaedah
              mengakui kelompok pekerja perempuan memiliki risiko bahaya lebih dalam melakukan segala
              aktivitas di lingkungan pekerjaan. Khususnya di sektor perkebunan kelapa sawit .

              "Kami  masih  melihat  banyak  perempuan  yang  berpotensi  terekspos  pada  sejumlah  bahaya
              potensi dalam dunia kerja. Khususnya pada sektor perkebunan kelapa sawit," ungkapnya dalam
              webinar bertajuk Perlindungan Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit, Selasa (23/3).

              Dia  mengungkapkan,  setidaknya  ada  tiga  risiko  bahaya  yang  kerap  mengintai  pekerja
              perempuan  di  perkebunan  kelapa  sawit.  Pertama,  risiko  bahaya  terkait  Kesehatan  dan
              Keselamatan Kerja (K3).

              "Terdapat beragam risiko yang berpotensial bagi pekerja perempuan dari bahaya pelanggaran
              K3. Seperti terbatasnya fasilitas keselamatan diri, jam kerja panjang, hingga tidak adanya cuti
              libur yang diberikan dan lainnya," ucapnya.

              Kedua,  bahaya  terkait  Kesehatan  Reproduksi.  Sebab,  masih  terdapatnya  oknum  manajemen
              perusahaan  dengan  tidak  memperdulikan  hakikat  seorang  wanita  yang  kerap  melalui  fase
              reproduksi seperti haid dan hamil.

              "Jadi, pekerja perempuan ada yang tidak diperbolehkan menggunakan cuti haid ataupun istirahat
              melahirkan," terangnya.

              Terkahir, Pelecehan dan Kekerasan Berbasis Gender. Menurutnya, praktik ini terjadi lantaran
              masoh adanya anggapan posisi lemah yang dimiliki oleh pekerja perempuan.

              Dia menyebut, berbagai risiko yang menimpa korban pekerja perempuan ini lebih disebabkan
              oleh rendahnya tingkat pengetahuan atas informasi pemenuhan hak-hak pekerja. "Jadi, banyak
              pihak belum mengetahui kegiatan-kegiatan diskriminasi itu," terangnya.

              Oleh  karena  itu,  Kemnaker  terus  aktif  mensosialisasikan  berbagai  aturan-aturan  terhadap
              perusahaan dan pekerja terkait pemenuhan hak dan kewajiban. Tujuannya untuk mewujudkan
              iklim kerja yang kondusif dan non diskriminatif.

              "Artinya, kita mengatur gar lingkungan kerja tidak diskriminatif. Praktek ini mulai dari rekrutmen,
              pelaksanaan pekerjaan di tempat kerja, pelatihan, hingga jaminan sosial dan pensiun," tegasnya.


                                                           136
   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142