Page 471 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 MEI 2021
P. 471

Andalan Yesa hanyalah tabungan yang ia kumpulkan sejak pertama kali bekerja (selama tiga
              tahun) dan lambat laun habis. Jurus memangkas kualitas pangan sebagai kebutuhan pokok pun
              dilakukan. Demi menambah penghasilan, Yesa berdagang secara daring.

              Meski tak seberapa, namun bisa menambah biaya membeli susu, pampers, dan kebutuhan si
              buah  hati  lainnya.  Entah  sampai  kapan  Yesa dan  keluarganya terjebak  dalam  pola  bertahan
              hidup harian --hanya sanggup berpikir kebutuhan bertahan hidup hari ini. Perencanaan hidup
              jangka panjang menjadi mimpi yang mustahil diwujudkan.

              Hal  serupa  juga  dialami  Mirna;  pabrik  tempat  ia  bekerja  tutup  selama  dua  minggu  di  awal
              pandemi, sementara sang suami yang bekerja sebagai cleaning service di sebuah mall di-PHK.
              Alhasil, Mirna mesti putar otak untuk bisa bertahan hidup bagi dua anaknya yang masih kecil,
              sementara kebutuhan terus berjalan tanpa mengenal libur.

              Kisah Yesa dan Mirna hanya contoh dari sekian banyak buruh bernasib serupa. Badan Statistik
              (BPS, 2020) mencatat pandemi berdampak pada 14,28% penduduk usia kerja, atau 29,12 juta
              orang dari total populasi 203,97 juta.

              Angka ini terdiri dari 2,56 juta orang yang menganggur, 0,76 juta orang bukan angkatan kerja
              (BAK), 1,77 juta orang yang sementara tidak bekerja, dan 24,03 juta orang yang mengalami
              pengurangan jam kerja.
              Sementara, penelitian online Marsinah FM di tahun 2020 mencatat, buruh di Jabotabek dan Jawa
              Tengah dari berbagai sektor seperti padat karya (garment, alas kaki, makanan dan minuman),
              sektor  jasa  (perhotelan,  rumah  makan,  ritel),  logam  komponen  otomotif,  sebanyak  28,08%
              dirumahkan dan mayoritas tidak diupah (68,5%).

              Demi menyambung hidup, sebagian buruh mulai beralih ke sektor informal seperti apa yang
              dilakukan  Yesa  dengan  berdagang  online.  Yesa  tidak  sendiri.  Menurut  BPS  (2020),  buruh  di
              sektor informal meningkat sebesar 4,6%, baik yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh
              tidak tetap, hingga pekerja tidak dibayar.

              Namun, menjadi pekerja informal bukan berarti lepas dari jerat kemiskinan, seperti yang dialami
              Andrico.  Andrico  membuka  usaha  jasa  pangkas  rambut  di  Bekasi  selama  16  tahun.  Sejak
              pandemi,  penghasilannya  menurun  drastis  menjadi  Rp  100.000-Rp  130,000/hari,  dengan
              pelanggan hanya sejumlah 10 sampai 13 orang/hari, itu pun adalah anak sekolah dengan biaya
              pangkas rambut lebih murah dari orang dewasa.

              Dalam peta ketenagakerjaan, pekerja informal merupakan pekerja rentan yang paling mudah
              tergerus hak dan kesejahteraannya, serta minim perlindungan. Dalam peraturan perundangan
              ketenagakerjaan misalnya, masih belum mengakomodasi hak buruh informal. Bercermin dari
              data dan cerita suram kaum buruh di atas, pandemi telah memerosotkan kesejahteraan dan
              memukul daya beli buruh.

              Akibatnya, tentu saja, melambatnya laju perekonomian yang masih bersandar pada daya beli
              masyarakat.  Dalam  hal  ini,  daya  beli  buruh  berkontribusi  besar  karena  lebih  dari  separuh
              penduduk  Indonesia  merupakan  pekerja.  Itulah  mengapa  kesejahteraan  buruh  merupakan
              elemen  penting  bagi  pemulihan  ekonomi.  Sayang,  kebijakan  pemerintah  justru  berkontribusi
              besar pada penurunan kesejahteraan kaum buruh.

              Memperparah Kondisi

              Sejak awal pandemi, pemerintah dengan sigap menerapkan beragam kebijakan, salah satunya
              tentu saja yang berkaitan dengan nasib buruh. Pada 17 Maret 2020, Menteri Tenaga Kerja Ida
              Fauziah  mengeluarkan  Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  Nomor  M/3/HK.04/III/2020


                                                           470
   466   467   468   469   470   471   472   473   474   475   476