Page 472 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 MEI 2021
P. 472

tentang Perlindungan Pekerja/ Buruh dan Kelangsungan Usaha dalam Rangka Pencegahan dan
              Penanggulangan Covid-19.
              Surat  edaran  tersebut  salah  satunya  mengatur  bahwa  selama  pandemi,  perubahan  besaran
              maupun  cara  pembayaran  upah  pekerja/buruh  dilakukan  sesuai  dengan  kesepakatan  antara
              pengusaha dengan pekerja/buruh. Istilah “kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh”
              seolah menunjukkan adanya keputusan demokratis terkait pemberian upah yang dicicil maupun
              dipotong.

              Padahal,  kedua  belah  pihak  yaitu  pengusaha  dan  buruh  berada  pada  relasi  yang  timpang.
              Keduanya  tidak  pernah  setara  secara  kedudukan  di  dalam  perusahaan;  pihak  perusahaan
              sebagai  atasan  (pemberi  kerja)  memiliki  kuasa  lebih  atas  nasib  buruh  (penerima  kerja/
              bawahan).

              Bisa  dipastikan  ruang  negosiasi  antara  pengusaha  dan  buruh  merupakan  ruang  yang  tidak
              demokratis karena relasi keduanya yang timpang sehingga hasil keputusan rentan merugikan
              kaum  buruh.  Dengan  kata  lain,  menyerahkan  kebijakan  upah  pada  “kesepakatan  antara
              pengusaha dan buruh/ pekerja” merupakan bentuk lepas tanggung jawab pemerintah terhadap
              nasib buruh.

              Padahal, situasi yang timpang tersebut hanya bisa menjadi setara, apabila perangkat dan aparat
              hukum memberikan ‘perlindungan bagi yang lemah’. Tak cukup sampai di situ, di pengujung
              tahun 2020, Kementerian Tenaga Kerja kembali memberikan kado sedih bagi buruh Indonesia,
              yaitu tidak dinaikkannya Upah Minimum Provinsi (UMP) 2021 dan diberlakukannya Upah Khusus
              Padat Karya yang membolehkan upah dibayarkan di bawah UMP hingga akhir tahun 2021.

              Dan, terakhir tentu saja kebijakan Tunjangan Hari Raya (THR) yang membolehkan perusahaan
              tidak membayarkan THR, mencicil THR atau tidak secara penuh. Benar, bahwa Surat Edaran
              Menaker berada di bawah peraturan perundangan, namun ia jauh lebih berlaku dibandingkan
              peraturan perundangan yang ada di atasnya.

              Keluarnya  Surat  Edaran  Menaker  bahkan  bertentangan  dengan  peraturan  perundangan  di
              atasnya, namun carut marutnya hukum di Indonesia mulai dari segi budaya hukum, struktur
              hukum, hingga esensi atau muatan hukum membuat hukum Indonesia seperti dagelan, bisa
              diubah sesuka hati, diberlakukan seusai kepentingan yang punya kuasa.

              (*/dtc)

              OLEH:

              DIAN  SEPTI  TRISNANTI  Koordinator  Marsinah  FM  dan  Ketua  Umum  Federasi  Serikat  Buruh
              Persatuan Indonesia (FSBPI)





















                                                           471
   467   468   469   470   471   472   473   474   475   476   477