Page 19 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MEI 2021
P. 19
Sementara itu, Pengajar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip)
Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan angka pengangguran masih tinggi karena pemulihan
ekonomi berjalan lambat.
Apalagi stimulus fiskal yang dikucurkan pemerintah sangat terbatas hanya untuk sektor
konsumsi. Jumlah yang dialokasikan untuk sektor produktif relatif kecil, sehingga sangat sulit
untuk memulihkan dunia usaha terutama Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang banyak
menyerap tenaga kerja.
Menurut Esther, perlu upaya serius dalam jangka panjang untuk meningkatkan kualitas
(upgrade) skill Sumber Daya Manusia (SDM), karena lebih dari 80 persen berpendidikan rendah
atau jenjang Sekolah Dasar hingga SLTA. Selain itu, pemerintah melalui Ke-menterian Tenaga
Kerja harus menjalankan fungsinya sebagai mediator untuk menjembatani perusahaan pemberi
kerja dengan pencari kerja.
Evaluasi Kurikulum
Di sisi lain, kurikulum pendidikan vokasi harus dievaluasi karena data menunjukkan sekolah
kejuruan justru berkontribusi besar atas angka pengangguran di Indonesia. Berkaitan dengan
penciptaan lapangan kerja, dia mengatakan tidak ada pilihan selain menggenjot investasi yang
mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.
Untuk meningkatkan skill pekerja tersebut, pemerintah, kata Esther, perlu mendorong kemitraan
dengan konsep triple helix, yaitu kerja sama antara pemerintah, industri, dan universitas/
lembaga pendidikan vokasi/ sekolah kejuruan.
"Percepatan upgrade skill tenaga kerja itu memungkinkan para lulusannya bisa langsung
ditampung industri," kata Esther.
Menaker Ida Fauziyah dalam rapat dengan Komisi IX DPR mengatakan angka pengangguran
tertinggi disumbangkan oleh lulusan SMK dengan persentase 11,45 persen, diikuti oleh SMA 8,55
persen, universitas 6,97 persen, dan Diploma 6,61 persen. Sedangkan tingkat pengangguran
tenaga kerja berpendidikan SMP adalah 5,87 persen, dan lulusan SD hanya 3,13 persen.
SB/ers/E-9
18

