Page 159 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 MEI 2020
P. 159
waktu. Ini hal yang sangat menyakitkan bagi kita, kaum buruh. Bahkan saya bisa
menyampaikan Kabupaten Sukabumi membara karena ulah Menaker," ujar Budi
saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Budi menilai, dalam tiga hari terakhir saja sudah ada ribuah buruh di empat
perusahaan yang melakukan gelombang aksi unjuk rasa buntut pemberlakuan
aturan yang memperbolehkan THR dibayar dengan cara dicicil dan tepat waktu.
"Kami dari DPC SPN Sukabumi mendesak pemerintah daerah, khususnya
Disnakertrans Kabupaten Sukabumi untuk mengambil langkah-langkah preventif.
Bila perlu kumpulkan semua pengusaha yang belum bisa membayar THR-nya tepat
waktu, lantas juga mengumpulkan perwakilan pekerja. Supaya gelombang aksi ini
tidak terjadi lagi di tengah wabah Virus Corona," kata Budi lagi.
"Pada prinsipnya kami mendukung aksi yang dilakukan para buruh apabila belum
ada kesepakatan, belum ada kesepahaman antara pengusaha dan pekerja
mengenai pembayaran THR tahun ini," tandasnya.
Terpisah, Ketua Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit - Serikat Pekerja Seluruh
Indonesia (SP TSK SPSI) Kabupaten Sukabumi, Mochamad Popon menilai Surat
Edaran Menaker yang seolah memperbolehkan THR dibayar dengan cara dicicil atau
ditunda oleh perusahaan tidak mempunyai kekuatan hukum.
"Surat Edaran menaker itu tidak punya kekuatan hukum apa-apa. Kita tetap
meminta THR itu dibayarkan oleh pengusaha tanpa harus dirundingkan, karena
aturan THR sudah jelas diatur dalam PKB (Perjanjian Kerja Bersama) dan PP
masing-masing perusahaan," tegas Popon.
Popon juga mengaku sudah meminta beberapa perusahaan untuk tetap membayar
THR para buruh paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan dan
membayarkan THR atau hak normatif para buruh secara penuh.
"Karena THR dari aspek keuangan perusahaan merupakan biaya tetap (fixed cost)
yang sudah direncanakan perusahaan sejak jauh hari. Maka tidak ada alasan bagi
perusahaan untuk memotong atau mengurangi, mencicil atau menunda pembayaran
THR kepada pekerja atau buruh," tegasnya.
"Kami percaya, walaupun terjadi pandemi Covid-19, semua perusaahaan mitra kami
akan mampu mempertahankan daya saingnya dengan cara konsisten untuk
memenuhi hak-hak normatif pekerja atau buruh di perusahaan masing-masing,"
imbuh Popon.
"Kondisi saat ini sebagai dampak Covid-19 ini memang berat. Tapi kita harus yakin
dan optimis bahwa kondisi sulit ini akan segera berakhir, seiring dengan mulai
berjalannya perekonomian dan mulai melonggarnya aturan lockdown di beberapa
negara tujuan ekspor di Eropa dan Amerika beberapa hari terakhir ini," tandasnya.
Page 158 of 191.

