Page 432 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 JUNI 2021
P. 432

empat tahun terakhir. Padahal, sebelumnya, pekerja anak sudah berhasil dikurangi menjadi 94
              juta pada 2000 sampai 2016.
              Sejak Covid-19 mewabah, satu dari 10 anak di dunia terjebak di dunia buruh, terutama di wilayah
              Afrika.  "Pandemi  memperburuk  situasi  ini  secara  sangat  signifikan,"  ujar  Kepala  UNICEF
              Henrietta Fore, dikutip Reuters. "Jika kita tidakbertindak, sekitar 50 juta anak lainnya juga sangat
              rentan terjatuh ke duniaburuh."

              Fore  mengakui  UNICEF,  pemerintah,  dan  semua  pemangku  kepentingan  gagal  mencegah
              pembeludakan pekerja anak mengingat situasinya sangat sulit. Memasuki tahun kedua pandemi,
              lockdown, penutupan sekolah, gangguan ekonomi, dan penyusutan anggaran nasional, pihak
              keluarga juga tak memiliki pilihan lain.

              Atas kondisi itu, UNICEF memperkirakan jumlah pekerja anak akan bertambah sekitar 9 juta
              orang pada 2022. Namun, menurut Claudia Cappa, ahli statistik UNICEF, jumlahnya berpotensi
              berlipat ganda sebanyak lima kali atau sekitar 46 juta anak, apalagi jika perlindungan sosial jatuh
              di bawah standar.

              Sebanyak 97 dari 160. juta pekerja anak adalah laki-laki. Mereka bekerja 43 jam dalam sepekan
              sehingga sekolah mustahil dijalani. Sekitar 10% pekerja anak juga mengerjakan pekerjaan yang
              berbahaya seperti diindustri pertambangan. Pekerjaan itu memengaruhi kesehatan, pendidikan,
              dan pertumbuhan mereka.

              Tahun lalu, sebagian besar Seorang gadis bekerja di pabrik batu bata di Provinsi Nangarhar,
              Afghanistan.

              pekerja anak bekerja di sektor pertanian, yakni mencapai 70% atau 112 juta orang. Sebanyak
              20% bekerja di sektor layanan dan jasa. UNICEF menyatakan peningkatan terbesar terjadi di
              Afrika, yakni sebanyak 16,6 juta, menyusul terjadinya kemiskinan dan rendahnya perlindungan
              sosial.
              Hampir seperempat anak-anak berusia 5-17 tahun di sub-Safcara Afrika telah menjadi pekerja
              anak sedangkan di Eropa dan Amerika Utara sebanyak 2,3%. Kepala ILO Guy Ryder mengatakan,
              laporan terbaru ini merupakan panggilan jiwa. Dia berharap semua pihak dapat berkomitmen
              untuk mengakhiri pekerja anak.
              Senada dengan UNICEF dan ILO, Human Rights Watch (HRW) menyatakan dampak pandemi
              terhadap  ekonomi  telah  meningkatkan  pekerja  anak.  Mereka  menyarankan  pemerintah  dan
              pendonor untuk memprioritaskan dana sumbangan kepada keluarga yang memiliki anak kecil
              guna mencegah pekerjaanak.

              Bekerja sama dengan kelompok sosial Initiative for Social and Economic Rights (ISER) di Uganda
              dan Friends of the Nation (FN) di Ghana, HRW melaporkan anak-anak di Afrika bekerja seharian
              penuh, tapi upahnya kecil setelah orang tua mereka kehilangan pendapatan akibat Covid-19.
              Mereka juga banyak ditipu.

              "Anak-anak  mengaku  tidak  memilik  pilihan  lain  selain  bekerja  untuk  membantu  ekonomi
              keluarga. Meski berkaitan dengan pandemi, peningkatan pekerja anak masih bisa dihindari," ujar
              Jo Becker, dari HRW di situs HRW. "Pemerintah harus membantu keluarga yang kesulitan untuk
              melindungi hak anak-anak."

              HRW beserta mitranya telah mewawancarai 81 anak, beberapa di antaranya berusia 8 tahun di
              Ghana, Nepal, dan Uganda. Mereka bekerja di tempat pembakaran batu bata, pabrik karpet,
              tambang  emas,  tambang  batu,  perikanan,  dan  pertanian.  Beberapa  juga  ada  yang  bekerja
              sebagai supir atau penjual asongan.

                                                           431
   427   428   429   430   431   432   433   434   435   436   437