Page 92 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 JUNI 2020
P. 92

KPK menyoroti empat hal terkait program ini.

              Pertama, soal pendaftaran.

              Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan ada 1,7 juta pekerja
              terdampak.

              Namun,  hanya  sebagian  kecil  dari  angka  yang  terdampak  tersebut  yang  mendaftar  secara
              daring, yakni hanya 143.000 orang.

              Padahal ada 9,4 juta orang yang mendaftar selama tiga gelombang.

              Penggunaan anggaran sebesar Rp 30,8 miliar untuk fitur recognition guna pengenalan peserta
              juga dinilai tidak efisien.

              Kemitraan dengan platform digital dinilai rentan penyelewengan karena dilakukan tanpa melalui
              mekanisme Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

              Tak hanya it, KPK juga menemukan terdapat konflik kepentingan pada lima platform digital
              dengan lembaga penyedia pelatihan.

              Selain  itu,  KPK  menilai  kurasi  materi  pelatihan  tidak  dilakukan  dengan  kompetensi  yang
              memadai.
              KPK juga menemukan pelatihan yang sebenarnya telah tersedia melalui jejaring internet dan
              tidak berbayar.

              Terakhir, KPK menilai metode pelaksanaan program pelatihan secara daring berpotensi fiktif,
              tidak efektif, dan dapat merugikan keuangan negara.

              Bermasalah  Hasil kajian KPK tersebut pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan yang selama
              ini menjadi kritik publik.

              Sejak pertama kali diluncurkan, program ini memang tak pernah sepi dari kritik.

              Sejumlah kalangan menilai, program Kartu Prakerja hanya menghambur-hamburkan anggaran
              karena tak sesuai kebutuhan.

              Karena, di masa pandemi rakyat lebih membutuhkan makanan dibanding pelatihan.

              Selain itu, usai ikut pelatihan juga tak ada jaminan peserta akan mendapat pekerjaan.

              Pasalnya, banyak perusahaan yang memilih menghentikan operasional atau menutup pabrik
              selama pandemi.

              Alih-alih  melakukan  rekrutmen  atau  penerimaan  karyawan,  banyak  perusahaan  yang
              merumahkan karyawannya atau melakukan pemutusan hubungan kerja karena dihajar corona.

              Program ini juga dikritik karena dinilai tak tepat sasaran.

              Sejak  awal  program  ini  diniatkan  untuk  membantu  masyarakat  yang  kehilangan  pekerjaan
              akibat pandemi.

              Namun dalam perjalanannya, banyak warga biasa yang notabene bukan pengangguran dan
              korban PHK bisa lolos menjadi peserta.

              Hal  ini  terjadi  karena  database  yang  tak  memadai  dan  pemilihan  peserta  yang  acak  tanpa
              seleksi.

                                                           91
   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97