Page 135 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 135

KEMNAKER: PEKERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING BERHAK DAPAT THR

              Kementerian  Ketenagakerjaan  memastikan  pekerja  dengan  status  outsourcing  (alih  daya),
              kontrak,  ataupun  pekerja  tetap  (PKWT dan  PKWTT) berhak  menerima  Tunjangan  Hari  Raya
              (THR) Keagamaan.

              Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos )
              Kemnaker,  Indah  Anggoro  Putri  menjelaskan,  pembayaran  THR  Keagamaan  ini  sesuai  Surat
              Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya
              (THR) Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan, pada prinsipnya mewajibkan
              pengusaha untuk memberi THR Keagamaan secara penuh kepada pekerja/buruhnya pada H-7
              Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang Rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan," kata Dirjen Putri di kantor Kemnaker Jakarta, pada Minggu (25/4).

              Ada tiga jenis pekerja/buruh yang berhak memperoleh THR Keagamaan. Pertama, pekerja/buruh
              berdasarkan PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) atau PKWTT (Perjanjian Kerja Waktu Tidak
              Tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus atau lebih.

              Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung sejak
              H-30 hari sebelum hari raya keagamaan. Ketiga, pekerja/buruh yang dipindahkan ke perusahaan
              lain dengan masa kerja berlanjut, apabila dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR tidak ada perbedaan status
              kerja. Para pekerja outsourcing maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan
              atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung, maka
              berhak mendapatkan THR juga," tegas Dirjen Putri.

              Selain itu, ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR Keagamaan adalah 1 bulan upah
              untuk pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih,
              sedangkan pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Demikian, penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih
              (clean wages) atau upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah
              pokok dan tunjangan tidak tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan THR yang nilainya lebih besar dari peraturan perundang-undangan, di mana hal
              tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," ujarnya.
              Sedangkan pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan
              dihitung melalui dua ketentuan. Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata upah
              yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan
              (rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja).
              Reporter: Tira Santia Sumber: Liputan6.com [idr].







                                                           134
   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140