Page 139 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 139

PKWT) atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu/PKWTT) berhak menerima Tunjangan Hari
              Raya (THR) Keagamaan.
              Hal ini diungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial
              Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) Kemnaker Indah Anggoro Putri di kantor Kemnaker, Jakarta,
              Minggu (25/4).

              Menurut  Putri,  sesuai  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021  tentang  Pelaksanaan
              Pemberian  THR  Keagamaan  Tahun  2021  bagi  Pekerja/Buruh  di  Perusahaan,  yang  pada
              prinsipnya  mewajibkan  pengusaha  memberi  THR  Keagamaan  secara  penuh  kepada
              pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan, " kata Dirjen Putri.

              Dia menjelaskan ada tiga jenis pekerja/buruh yang berhak memperoleh THR Keagamaan.

              Pertama, pekerja/buruh berdasarkan PKWT atau PKWTT yang memiliki masa kerja satu bulan
              secara menerus atau lebih.

              Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung sejak
              H-30 hari sebelum hari raya keagamaan.

              Ketiga, pekerja/buruh yang dipindahkan ke perusahaan lain dengan masa kerja berlanjut, apabila
              dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              Putri menegaskan THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Menurutnya, dalam pembayaran
              THR, tidak ada perbedaan status kerja.

              "Para pekerja outsourcing maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan atau
              lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung, maka berhak
              mendapatkan THR juga," ujar Dirjen Putri.
              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR Keagamaan adalah 1 bulan upah untuk
              pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih.

              Sementara, pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean
              wages); atau upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan
              tunjangan tidak tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              Dari perhitungan upah tersebut, kata Putri, tidak menutup kemungkinan perusahaan juga dapat
              memberikan THR yang nilainya lebih besar dari peraturan perundang-undangan.

              "Hal  tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," ujar Dirjen Putri.
              Pekerja/buruh  yang  bekerja  berdasarkan  perjanjian  kerja  harian,  upah  satu  bulan  dihitung
              melalui dua ketentuan.

              Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan
              terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan (rata-rata upah yang diterima
              tiap bulan selama masa kerja). (*/jpnn)

                                                           138
   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144