Page 152 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 152

TENANG, PEKERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING JUGA BAKAL TERIMA THR

              JAKARTA, - Kementerian Ketenagakerjaan memastikan jika pemberian Tunjangan Hari Raya (
              THR ) tidak hanya diberikan kepada karyawan tetap saja. Para pekerja dengan status outsourcing
              (alih  daya),  kontrak,  ataupun  pekerja  tetap  (PKWT  dan  PKWTT)  berhak  menerima  THR
              Keagamaan.

              Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan
              Jamsos)  Kementerian  Ketenagakerjaan,  Indah  Anggoro  Putri,  mengatakan  pembayaran  THR
              Keagamaan  ini  sesuai  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021  tentang  Pelaksanaan
              Pemberian THR Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Aturan  tersebut,  pada  prinsipnya  mewajibkan  pengusaha  untuk  memberi  THR  Keagamaan
              secara penuh kepada pekerja atau buruhnya pada H-7 Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan," kata Putri dalam keterangannya, Minggu (25/4/2021).

              Dia menjelaskan, ada tiga jenis pekerja atau buruh yang berhak memperoleh THR Keagamaan.
              Pertama, pekerja atau buruh berdasarkan PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) atau PKWTT
              (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus atau
              lebih.

              Kedua, pekerja atau buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung
              sejak H-30 hari sebelum hari raya keagamaan. Ketiga, pekerja atau buruh yang dipindahkan ke
              perusahaan lain dengan masa kerja berlanjut, apabila dari perusahaan lama belum mendapatkan
              THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR tidak ada perbedaan status
              kerja. Para pekerja outsourcing maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan
              atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung, maka
              berhak mendapatkan THR juga," ujar Putri.

              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR Keagamaan adalah 1 bulan upah untuk
              pekerja atau buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih.
              Sedangkan pekerja atau buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih atau upah
              pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tidak
              tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              Sedangkan pekerja atau buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu
              bulan dihitung melalui dua ketentuan. Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata
              upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12
              bulan (rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja).

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan  THR yang nilainya  lebih  besar dari  peraturan perundang-undangan,  dimana  hal
              tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," tutur Putri.

              Editor : Jeanny Aipassa.


                                                           151
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157