Page 539 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 539

Ringkasan

              Tunjangan Hari Raya (THR) pada masa pandemi Covid-19 merupakan daya pemulihan ekonomi
              nasional, sehingga perlu dikelola dengan bijak. "Pola pikir kita mengenai THR perlu diubah, THR
              bukan rezeki yang datang untuk dihabiskan semua pada saat hari raya," ungkap Perencanaan
              Keuangan, Mike Rini Sutikno dalam Webinar dengan tema 'Cerdas Kelola Tunjangan Hari Raya'
              yang diselenggarakan oleh Kominfo dan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi
              Nasional (KPCPEN), Jakarta, Rabu (21/4/2021).



              THR BUKAN UNTUK DIHABISKAN SAAT LEBARAN

              JAKARTA  -  Tunjangan  Hari  Raya  (THR)  pada  masa  pandemi  Covid-19  merupakan  daya
              pemulihan ekonomi nasional, sehingga perlu dikelola dengan bijak.
              "Pola pikir kita mengenai THR perlu diubah, THR bukan rezeki yang datang untuk dihabiskan
              semua pada saat hari raya," ungkap Perencanaan Keuangan, Mike Rini Sutikno dalam Webinar
              dengan  tema  'Cerdas  Kelola  Tunjangan  Hari  Raya'  yang  diselenggarakan  oleh  Kominfo  dan
              Komite  Penanganan  Covid-19  dan  Pemulihan  Ekonomi  Nasional  (KPCPEN),  Jakarta,  Rabu
              (21/4/2021).

              Mike  menyampaikan,  pengelolaan  THR  perlu  dibagi  ke  dalam  beberapa  pos  pengeluaran.
              Menurut Mike, pos pengeluaran THR yang pertama adalah untuk prioritas, prioritas ini bukan
              kebutuhan sehari-hari seperti pengeluaran listrik dan lain-lain. Prioritas yang dimaksud adalah
              untuk menabung dana darurat, pelunasan hutang, serta investasi untuk masa depan.

              "Dana darurat sangat penting karena masa epidemi ini situasi yang tidak pasti. Proporsi untuk
              pos prioritas ini adalah 10-30 persen dari THR yang didapat," ujarnya.
              Kemudian, Mike mengatakan, pos pengeluaran THR selanjutnya adalah zakat, infak dan sedekah
              dengan proporsi 10 persen dari THR. Lalu pengeluaran untuk sajian khas hari raya sebesar 5-15
              persen dari THR dan pengeluaran untuk busana serta perlengkapan ibadah dialokasikan sebesar
              5-15 persen dari THR yang didapat.

              "Saat hari raya, tidak perlu semua yang kita pakai mesti baru, upayakan belanja berdasarkan
              kebutuhan  bukan  atas  dasar  keinginan,"  katanya.  Mike  menambahkan,  dana  THR  dapat
              digunakan untuk keperluan lainnya seperti liburan, halal bihalal dan renovasi rumah.
              "Keperluan  seperti  ini  dialokasikan  hanya  sekitar  10-15  persen,"  ungkapnya.  Direktur
              Pengupahan Ditjen PHI JSK Kemnaker, Dinar Titus Jogaswitani, menyampaikan bahwa di tengah
              pandemi Covid-19, THR wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada pekerja menjelang hari raya,
              baik perusahaan lama maupun baru. "THR sekurang-kurangnya dibayarkan tujuh hari sebelum
              hari raya," ujarnya.

              Dinar mengatakan, meskipun terkena dampak pandemi dan tidak mampu membayar THR sesuai
              dengan waktu yang ditentukan, namun perusahan tetap wajib membayar THR karyawannya.
              Menurut Dinar, jika perusahaan tidak mampu membayar THR tepat waktu, maka perlu ada dialog
              antara pengusaha dan pekerja supaya tercipta kesepakatan tertulis.

              "Perjanjian tertulis yang berisi kesepakatan harus dilaporkan perusahaan kepada Dinas Tenaga
              Kerja paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan. THR dapat memulihkan ekonomi
              nasional dari dampak pandemi Covid-19," katanya.






                                                           538
   534   535   536   537   538   539   540   541   542   543   544