Page 364 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 AGUSTUS 2020
P. 364

kontroversi:     Upah  Para buruh juga menolak sistem pengupahan yang ada dalam  draft  beleid
              tersebut.  Menurut  mereka  sistem  pengupahan  akan  diubah  menjadi  perhitungan  jam.  Jika
              pekerja  bekerja  kurang  dari  40  jam  seminggu  berpotensi  mendapatkan  gaji  di  bawah  upah
              minimum.

              Berdasarkan bahan penjelasan Kemenko Perekonomian, Omnibus Law memang akan mengatur
              skema upah per jam. Namun upah minimum yang biasanya juga tidak dihapuskan.

              Upah  minimum  hanya  berlaku  bagi  pekerja  baru  yang  bekerja  kurang  dari  1  tahun,  namun
              pekerja  tersebut  tetap  dimungkinkan  menerima  upah  di  atas  UM  dengan  memperhatikan
              kompetensi, pendidikan, dan sertifikasi.

              Perusahaan dapat menerapkan skema upah per jam dengan beberapa syarat. Misalnya untuk
              menampung jenis pekerjaan tertentu seperti konsultan, pekerjaan paruh waktu, dan lainnya,
              serta jenis pekerjaan baru seperti di bidang ekonomi digital.

              Pemerintah  juga  beralasan  untuk  memberikan  hak  dan  perlindungan  bagi  jenis  pekerjaan
              tersebut, perlu pengaturan upah berbasis jam kerja, yang tidak menghapus ketentuan upah
              minimum.  Apabila  upah  berbasis  jam  kerja  tidak  diatur,  maka  pekerja  tidak  mendapatkan
              perlindungan upah.

              Menurut Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah, ketentuan soal upah minimum yang
              kali ini hanya melibatkan tingkat provinsi dengan merujuk nilai inflasi di daerahnya. Hal itu justru
              untuk  mencegah  kesenjangan  antar  kabupaten/kota.  Sebab  ketika  ada  kabupaten/kota  di
              sebuah provinsi menetapkan upah lebih tinggi, akibatnya kemudian si pengusaha memindahkan
              usaha mereka ke daerah lain yang dinilai lebih murah.

              Pesangon  Para buruh juga mengkhawatirkan hilangnya pesangon bagi pekerja yang terkena
              PHK. Pesangon itu ubah menjadi tunjangan PHK.

              Namun, berdasarkan  draft  , RUU masih mengatur pembayaran pesangon. Besaran perhitungan
              uang pesangonnya pun sama dengan yang diatur dalam UU 13 Tahun 2003.

              Misalnya untuk masa kerja kurang dari 1 tahun dapat 1 bulan upah, lalu masa kerja 1 tahun atau
              lebih tetapi kurang dari 2 tahun, dapat 2 bulan upah. Kemudian masa kerja 2 tahun atau lebih
              tetapi kurang dari 3 tahun, dapat 3 bulan upah dan seterusnya.

              Dalam bahan paparan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga menyebutkan bahwa
              Omnibus Law masih memberikan perlindungan baru pekerja yang terkena PHK.

              Pemerintah juga menambahkan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang berisi Cash Benefit
              Vocational Training dan Job Placement Access. JKP sendiri tidak menambah beban iuran bagi
              pekerja dan perusahaan.
              Pekerja  yang  mendapatkan  JKP  juga  tetap  akan  mendapatkan  jaminan  sosial  lainnya  yang
              berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP) dan
              Jaminan Kematian (JKM).

              Menurut Ida, besaran pesangon yang lebih kecil bagi pegawai yang kena PHK itu dikompensasi
              dengan pemberian pelatihan vokasi, dan mendapatkan akses penempatan.

              "Kalau selama ini angka pesangon itu tinggi, tapi kan implementasinya tidak setinggi yang di
              atas  kertas.  Nah  untuk  mengurangi  kesenjangan  itu,  kami  ingin  memberikan  kepastian
              perlindungan  dengan  manfaat  baru,"  papar  Ida  kepada  tim  Blak-blakan    detikcom    ,  Jumat
              (21/02/2020).



                                                           363
   359   360   361   362   363   364   365   366   367   368   369