Page 475 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 AGUSTUS 2020
P. 475

AKHIR SEPTEMBER, RUU CIPTAKER RAMPUNG

              RANCANGAN Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja (Ciptaker) ditargetkan akhir September tahun
              rampung dibahas.

              Badan Legislasi (Baleg) DPR RI mengungkapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU)
              Cipta Kerja (Ciptaker) berjalan baik.

              "Perkiraan kita akhir September bisa kita selesaikan. Disahkan sebelum reses 9 Oktober 2020,"
              kata Anggota Baleg Hendrawan Supratikno di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8).

              Politikus  PDI  Perjuangan  itu  membenarkan  pernyataan  Menteri  Koordinator  (Menko)
              Perekonomian Airlangga Hartato yang menyebut RUU Ciptaker sudah 75 persen rampung. Dia
              mengatakan 6.200 dari 8.000-an Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) sudah selesai dibahas.

              "Berarti tinggal sekitar 1.800 DIM," ungkap dia.
              Efesiensi waktu saat reses menjadi salah satu alasan pembahasan bisa dikebut. Baleg diizinkan
              Badan Musyawarah (Bamus) DPR untuk membahas RUU Ciptaker selama masa reses agar aturan
              tersebut bisa segera diketok.

              "Kemarin selama masa reses rata-rata setiap kali pertemuan kita menyelesaikan 100 DIM," ujar
              dia.

              Sebelumnya, Airlangga Hartarto menyebut pembahasan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja
              mencapai 75%. RUU itu segera rampung dibahas.

              "Ini  menjadi  sebuah  catatan  karena  ditunggu-tunggu  oleh  banyak  investor  karena  terdapat
              beberapa peraturan yang meluruskan obesitas dari regulasi," kata Airlangga.
              Sementara  itu,  Dosen  Ilmu  Politik  FISIP  Universitas  Sumatera  Utara  (USU)  Fredick  Broven
              Ekayanta mengatakan bahwa daya saing ekonomi Indonesia itu lemah, penyebabnya adalah
              ribetnya birokrasi.

              Fredick menilai, RUU Cipta Kerja merupakan sebuah cara untuk menyederahanakan birokrasi di
              Indonesia.  Jika  regulasi  ini  dapat  segera  rampung,  maka  kemampuan  Indonesia  dalam
              mempertahankan  algoritma  sebesar  50  persen  di  ekonomi.  Selain  itu,  Omnibuslaw  adalah
              langkah untuk meminimalkan penyelewengan birokrasi.

              "RUU ini adalah mengganti banyaknya aturan yang ada di birokrasi, lalu disederhanakan menjadi
              Omnibuslaw. Tujuannya adalah untuk mempermudah bagi siapa saja untuk menanamkan saham
              atau  modalnya  di  negara  kita,  yang  akan  berdampak  pada  penyerapan  tenaga  kerja  bagi
              penduduk Indonesia," kata Fedrick.
              Sosiolog Universitas Islam Negeri Sumater Utara Purjatian Anhar mengungkapkan, secara social
              memang  RUU  Cipta  Kerja  berpotensi  menyebabkan  kegaduhan  di  para  pekerja  dan  buruh.
              Karena, ada beberapa pasal di bidang ketenagakerjaan dapat menimbulakan perspektif yang
              multitafsir bagi pembacanya.
              Dalam upaya negara menghindari dari resesi ekonomi, kata Anhar, RUU omnibus law ini adalah
              sebuah solusi, karena banyak investasi yang datang maka akan berbading lurus dengan daya
              beli masyarakat yang akan meningkat.





                                                           474
   470   471   472   473   474   475   476   477   478   479   480