Page 580 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 AGUSTUS 2020
P. 580

Giriwardhana, Direktur Eksektutif APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menyatakan hal ini
              dalam  webinar  Nasib  SDM  Di  Perkebunan  Sawit  Era  New  Normal  yang  dilaksanakan  Media
              Perkebunan.

              Untuk mencipakan lapangan kerja yang banyak, yang sesuai dengan jumlah lulusan perguruan
              tinggi atau minimal mendekati, maka harus menarik investasi sebanyak mungkin. Saat ini terlalu
              banyak aturan yang membuat investasi sulit masuk.

              Hal inilah yang coba diatasi melalui Omnibus Law.

              "Jadi  siapapun  yang  menolak  UU  Cipta  Kerja  ini  tolong  buat  alternatif  lain  cara  mengatasi
              kurangnya pekerjaan di masa depan. Jangan asal tolak saja tetapi tidak memberikan alternatif
              apapun terhadap masalah besar yang harus dihadapi bangsa ini," katanya.

              Terlalu banyak regulasi membuat investasi tidak banyak yang masuk sehingga serapan tenaga
              kerja  menjadi  rendah.  Setiap tahun  ada  700.000orang  lulusan  perguruan  tinggi  yang  masuk
              dalam bursa kerja. Ditambah dengan lulusan tahun-tahun sebelumnya yang menganggur maka
              ada 2,5 juta orang yang membutuhkan pekerjaan setiap tahunya. Dunia usaha adalah satu-
              satunya tempat mendptakan lapangan pekerjaan. Karena itu dunia usaha harus berkembang.

              Saat ini PDB perkapita perbulan

              adalah  Rp4,6  juta,  sangat  rendah  dibanding  negara-negara  ASEAN  lainnya.  Tahun  2045
              ditargetkan PDB perkapita mencapai Rp27/bulan. Kondisi ini tidak bisa terjadi begitu saja tetapi
              harus didptakan. Salah satunya lewat Omnibus Law.

              UU  ini  merupakan  sarana  supaya  target  kesejahteraan  bisa  tercapai.  Setiap  tahun  harus
              didptakan lapangan pekerjaan baru 2,6-3 juta, dan ini jumlah yang sangat besar. Mereka bisa
              masuk sebagai pekerja atau berwiraswasta. Bisnis harus bisa bergerak secara leluasa supaya ini
              bisa tercapai.

              Regulasi  yang  ada  sekarang  cenderung  membuat  bisnis  tidak  bisa bergerak  leluasa,  bahkan
              seperti membelenggu. Insitusi negara yang gemuk membuat banyak peraturan sehingga regulasi
              menjadi rumit. Tokok ukur seorang pejabat negara adalah aturan yang dibuat membuat situasi
              semakin pelik. Ekosistem yang dibuat pemerintah sendiri membuat bisnis terpasung.

              Saat ini total peraturan yang dibuat di Indonesia ada 42.996. Khusus bidang perkebunan sawit
              saja ada 8 kementerian yang mengatur dan masing-masing punya aturan sendiri-sendiri. Periode
              2014-2018 yaitu selama empat tahun lahir 8.900 regulasi, atau setiap hari lahir 6 regulasi baru.

              Peraturan  yang  paling  banyak  adalah  peraturan  menteri  mencapai  7.621.  Mendesak  sekali
              bagaimana regulasi bisa dikelola secara baik sehingga investasi bisa tumbuh. Jangan lagi regulasi
              demi regulasi, tetapi demi penaptaan iklim bisnis yang baik sehingga investasi banyak masuk,
              wiraswasta  -wiraswasta  baru  lahir  dan  angkatan  kerja  terserap.  Perlombaan  mengeluarkan
              regulasi antar instansi harus segera dihentikan.

              Saat ini jumlah orang yang bekerja di Indonesia mencapai 137,9 juta orang. Mereka harus tetap
              bekerja dan orang yang belum bekerja harus bekerja. Investasi yang masuk diharapkan adalah
              yang membuka banyak kesempatan kerja, yaitu sektor real (industri). Jangan terlalu banyak
              investasi bidang perdagangan dan financial yang kebutuhan tenaga kerjanya sedikit.

              Terlalu banyak pengangguran tamatan perguruan tinggi maka suatu saat akan terjadi ledakan
              sosial.  Akan  terjadi  mismatch  vertikal  dimana  pekerja  mendowngrade  dirinya  supaya  bisa
              mendapat  pekerjaan.  Misalnya  seorang  lulusan SI  karena  terlalu  lama menganggur  akhirnya
              melamar pekerjaan untuk ijasah SLTA supaya bisa bekerja.


                                                           579
   575   576   577   578   579   580   581   582   583   584   585