Page 34 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MARET 2021
P. 34

melonjak dibandingkan yang di-PHK di tahun 2019 (18.911 orang) atau pada tahun 2018 (27.687
              orang).


              ANGKA PHK MELONJAK TAJAM

              JAKARTA, KOMPAS - Angka pemutusan hubungan kerja atau PHK pada tahun 2020 melonjak
              tajam  hingga  20  kali  lipat  dibandingkan  dengan  2019  akibat  pandemi  Covid-19.  Selain
              menggenjot  investasi,  pemerintah  perlu  mengefektifkan  stimulus  bagi  pelaku  usaha  guna
              mengurangi beban operasional perusahaan sekaligus menekan laju penambahan jumlah PHK.

              Kementerian  Ketenagakerjaan  mencatat,  sepanjang  2020  sebanyak  386.877  pekerja  terkena
              PHK. Jumlahnya melonjak dibandingkan yang di-PHK di tahun 2019 (18.911 orang) atau pada
              tahun 2018 (27.687 orang).
              Direktur Jaminan Sosial Kementerian Ketenagakerjaan Retno Pratiwi, dalam diskusi daring yang
              digelar  Aliansi  Jurnalis  Independen  (AJI)  dan  Organisasi  Buruh  Internasional  (ILO),  Selasa
              (9/3/2021), menyebutkan, data inkrah dari daerah ataupun klaim Jaminan Hari Tua itu terbilang
              ekstrem. "Padahal, dari tahun ke tahun, tren PHK makin turun, terakhir 2019. Namun, begitu
              pandemi Covid-19, angkanya menjadi ekstrem karena jauh di atas rata-rata," ujarnya.

              Sementara  itu,  survei  Angkatan  Kerja  Nasional  Agustus  2020  oleh  Badan  Pusat  Statistik
              mencatat, 29,12 juta orang atau 14,28 persen dari 203,97 juta penduduk usia keija terdampak
              pandemi. Jumlah penganggur bertambah dari 7,21 juta orang menjadi 9,77 juta orang.

              Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, yang dihubungi
              terpisah,  berpendapat,  selain  investasi,  stimulus  bagi  dunia  usaha  perlu  menjadi  perhatian
              pemerintah.  Stimulus  diperlukan  untuk  mengurangi  laju  PHK  dan  mengurangi  beban  biaya
              operasional perusahaan.

              "Subsidi gaji seperti yang dikeluarkan pemerintah tahun lalu bisa membantu. Namun, subsidi ini
              lebih diarahkan ke pelaku usaha yang paling terdampak usahanya," ujarnya.

              Dukungan  juga  diperlukan  untuk  memulihkan  sektor  informal.  Sektor  ini  dapat  diandalkan
              menyerap banyak tenaga kerja. "Bantuan usaha mikro melalui anggaran pemulihan ekonomi
              nasional jadi bagian menjaga daya tahan pelaku usaha informal," kata Faisal.

              Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukam-dani, situasi
              perekonomian yang membaik akan direspons oleh para pemberi kerja dengan menarik kembali
              tenaga  kerjanya.  Namun,  investasi  tetap  dibutuhkan  untuk  mengompensasi  berkurangnya
              lapangan pekerjaan akibat pan-demi.

              Program jaminan

              Hariyadi optimistis implementasi Undang-Undang Cipta Kerja akan meningkatkan investasi tahun
              ini. "(Implementasi ini) diharapkan simultan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi triwulan 11
              dan 111 tahun ini yang lebih baik dari tahun lalu," ujarnya.

              Guna  mengantisipasi  tenaga  kerja  kehilangan  hak  finansial  akibat  PHK,  pemerintah
              mengembangkan  Jaminan  Kehilangan  Pekerjaan  (JKP).  Program  yang  dikelola  Badan
              Penyelenggara  Jaminan  Sosial  Ketenagakerjaan  (BP  Jamsostek)  ini  membantu  pekerja
              mendapatkan jaminan uang, pelatihan kerja, hingga akses informasi ke lapangan pekerjaan.





                                                           33
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39