Page 35 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 SEPTEMBER 2020
P. 35

OMNIBUS LAW CIPTA KERJA MEMASUKI BABAK AKHIR

              JAKARTA. Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja mulai masuk babak akhir.
              Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) yang berjumlah 8.000 DIM itu kini hanya menyisakan 5%
              materi yang belum dibahas.

              Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Supratman Audi Agtas mengatakan, 95% DIM RUU Cipta
              Kerja telah dibahas di tingkat Panitia Kerja (Panja) DPR. Selain itu ada sejumlah materi tertunda
              atas Undang-Undang (UU) sektoral yang masih harus dibahas secara intensif. "Mudah-mudahan
              besok (hari ini) kami bisa masuk ke klaster yang terakhir, yakni Bab IV tentang ketenagakerjaan,"
              kata Supratman, Kamis (24/9).

              Supratman menjelaskan, poin-poin Omnibus Law Cipta Kerja yang telah dibahas di antaranya,
              pertama,  terkait  konsepsi  dasar  kerangka  pola  pemanfaatan  mang  yang  selama  ini  dinilai
              terdapat persinggungan antar sektor. Kedua, Panja DPR juga sudah membahas klaster perizinan
              lingkungan. Izin lingkungan tidak dihapus karena adanya perizinan berbasis risiko (risk based
              approach).

              Ketiga, kebijakan penegasan bagi usaha mikro dan kecil (UMK) yang akan mendapat berbagai
              kemudahan. Keempat, soal kewenangan pemerintah daerah (pemda). Dia bilang, kewenangan
              pemda yang sebelumnya akan ditarik

              ke pemerintah pusat, akhirnya diputuskan kewenangan pemda ini dikembalikan karena sifatnya
              melekat.

              Wakil Ketua Baleg DPR RI Achmad Baidowi menyatakan, meski sudah disepakati lebih dari 90%,
              kesepakatan ini harus dibawa ke Tim Perumus (Timus) dan Tim Sinkronisasi (Timsin). "Apalagi
              klaster  ketenagakerjaan  belum  dibahas,  jadi  kalau  ditanya  apa  bisa  selesai  akhir  bulan  ini?
              Jawabnya kami upayakan, tapi tak bisa menjamin, karena ada dinamika antarfraksi," ujar dia.

              Sinkronisasi aturan

              Staf Ahli Bidang Regulasi, Penegakan Hukum, dan Ketahanan Ekonomi, Kementerian

              Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi mengatakan, RUU Cipta Kerja diharapkan bisa
              menjadi pendorong proses transformasi ekonomi Indonesia. Menurut Elen, ada beberapa hal
              yang  telah  dibahas  di  RUU  Cipta  Kerja,  seperti  integrasi  tata  mang  baik  baik  di  darat,  laut,
              termasuk  kawasan  hutan,  dan  mendorong  percepatan  Rencana  Detail  Tata  Ruang  (RDTR)
              bentuk digital.

              Terkait  rencana  pencabutan  peraturan  daerah  (perda)  yang  bertentangan,  pemerintah  ke
              depannya akan memilih melakukan penyelarasan dan sinkronisasi atas perda yang dianggap
              bermasalah.  "Jadi  usulan  yang  disampaikan  pemerintah  kepada  DPR  pada  Februari  kemarin
              sudah disepakati pencabutan perda itu tetap mengikuti mekanisme sesuai putusan M K. Jadi
              tidak dibatalkan oleh presiden tapi mengkuti mekanisme yang ada," ucap dia.

              Ketua  Umum  Kamar  dagang  dan  Industri  (Kadin)  Indonesia,  Rosan  P  Roeslani  mengatakan,
              banyaknya at uran dan regulasi saat ini membuat investasi terkendala. Dia menilai, regulasi yang
              tumpang tindih dan harus segera disempurnakan.

              Oleh  karena  itu,  ke  depan  regulasi  itu  akan  dipangkas,  disederhanakan,  diselaraskan  agar
              membuat iklim investasi kita akan menjadi lebih baik. "Kami melihat memang cukup banyak ya
              aturan dan regulasi usaha di Indonesia pada saat ini," kata Rosan.



              Pembahasan Klaster/Bab RUU Cipta Kerja
                                                           34
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40