Page 140 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 AGUSTUS 2021
P. 140

MENAKER PAPARKAN 4 ISU STRATEGIS PERLINDUNGAN PEKERJA MIGRAN DI
              FORUM DIASPORA
              Pemerintah memiliki komitmen yang kuat dalam melindungi kepentingan Calon Indonesia (CPMI)
              atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) beserta keluarganya.

              Komitmen ini diupayakan dengan terwujudnya pemenuhan hak di setiap kegiatan penempatan,
              mulai dari sebelum bekerja, selama bekerja, hingga setelah bekerja di luar negeri.

              Upaya itu disampaikan Ida Fauziyah saat menjadi Keynote Speaker pada acara Congress Of
              Indonesia  Diaspora  (CID)  dengan  tema  Pekerja  Migran  Indonesia  (PMI)  di  Masa  COVID-19:
              Tantangan, Kontribusi, dan Harapan, di Jakarta, Sabtu (14/8).

              "Salah  satu  upaya  pemerintah  untuk  meningkatkan  pelindungan  PMI  adalah  mengubah
              paradigma  yaitu  bahwa  PMI  bukan  lagi  sebagai  obyek,  tetapi  mereka  merupakan  subyek
              penempatan," kata Ida dikutip dari keterangan resmi Kemnaker, Minggu (15/8).

              Ida menuturkan,pemerintah mengharapkan bahwa pada masa yang akan datang, tidak akan
              ada lagi PMI bekerja di sektor informal yang mengandalkan . Hal ini sebagaimana diamanatkan
              dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (UU
              PPMI).

              "Di mana pada sektor ini sering menjadi sumber permasalahan seperti gaji tidak dibayar, PHK,
              dan kasus hukum lainnya," terangnya.
              Terkait hal tersebut, Ida memiliki empat pandangan startegis di antaranya terkait isu kesehatan,
              pengawasan dalam menjamin kesehatan fisik dan mental, jaminan sosial, serta penyediaan pusat
              pelindungan PMI di negara penempatan.

              Pertama, mengenai kesehatan PMI. Menurut UU PPMI, setiap CPMI harus sehat secara jasmani
              dan  rohani  yang  dibuktikan  dengan  surat  keterangan  sehat  berdasarkan  hasil  pemeriksaan
              kesehatan dan psikologi.

              Kedua, mengenai pengawasan pemerintah. Dalam hal kesehatan fisik dan mental, menurut Pasal
              21 UU PPMI, disebutkan bentuk-bentuk pelindungan selama bekerja.

              Ketiga, mengenai jaminan sosial. Jaminan sosial bagi PMI telah diatur dalam Peraturan Menteri
              Ketenagakerjaan No. 18 Tahun 2018 tentang Jaminan Sosial Pekerja Migran Indonesia.

              "Dalam Permenaker No. 18 Tahun 2018, disebutkan bahwa jaminan sosial ketenagakerjaan yang
              dilaksanakan  oleh  BPJS  Ketenagakerjaan  menyelenggarakan  3  (tiga)  program  yaitu  Jaminan
              Kecelakaan Kerja; Jaminan Kematian; dan Jaminan Hari Tua," jelas Ida.

              Keempat, mengenai penyediaan pusat pelindungan PMI di negara penempatan. Terkait ini, Ida
              mengatakan, pada prinsipnya telah dilaksanakan oleh Perwakilan RI di negara penempatan.

              "Jadi, Perwakilan RI di negara penempatan, khususnya yang memiliki Atase Ketenagakerjaan,
              telah  membuka  layanan  pelindungan  PMI,  yang  dimulai  dari  layanan  pengaduan,  layanan
              pendampingan/advokasi,  layanan  penyelesaian  permasalahan,  serta  layanan  lainnya  yang
              bertujuan untuk menunjang optimalisasi pelindungan PMI di negara penempatan," ujarnya.

              Dalam kesempatan ini pula, Ida memberikan apresiasinya kepada Komunitas diaspora Indonesia
              yang selama ini memiliki peran strategis untuk turut serta dalam merangkul PMI sebagai elemen
              dalam,  mengingat  potensi  yang  mereka  miliki  cukup  besar  dalam  berkontribusi  dalam
              pembangunan dalam negeri.


                                                           139
   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145