Page 1016 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1016

dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja (SE Menaker) Nomor M/11/HK.04/X/2020 tentang
              penetapan upah minimum tahun 2021 pada masa Pandemi Covid 19. Ketua FSPMI Sumut, Willy
              Agus Utomo mengatakan standar upah Sumut sangat jauh tertinggal dari daerah Industri lainnya
              di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir.



              BURUH SUMUT SEBUT PEMERINTAH TAK SENSITIF, DEMO 2 NOVEMBER

              Ribuan buruh dari Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Provinsi
              Sumatera Utara (DPW FSPMI Sumut) disebut akan kembali turun untuk menolak memprotes
              keras Omnibus Law Cipta Kerja dan rencana pemerintah tidak akan menaikkan upah di 2021.

              "Pemerintah tidak memiliki sensitivitas terhadap penderitaan kaum buruh Indonesia, dan hanya
              mementingkan kepentingan kalangan pengusaha saja," kata Ketua FSPMI Sumut, Willy Agus
              Utomo, Rabu (28/10).

              "Belum  lagi  protes  kami  terhadap  Omnibus  Law  yang  merugikan  buruh,  kami  juga  harus
              menerima kabar buruk, upah buruh tidak mengalami kenaikan 2021. Kami menolak tegas dan
              akan melawan kebijakan yang tidak berprikemanusiaan tersebut," cetus dia.

              Diketahui, Pemerintah telah menetapkan bahwa upah tahun 2021 tidak akan naik yang tertuang
              dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja (SE Menaker) Nomor M/11/HK.04/X/2020 tentang
              penetapan upah minimum tahun 2021 pada masa Pandemi Covid 19.
              Sementara, demo menolak Omnibus Law, yang juga dianggap menganakemaskan kepentingan
              pengusaha dan meminggirkan hak buruh, masih terus berlangsung di berbagai daerah, termasuk
              hari ini.

              Willy mengatakan standar upah Sumut sangat jauh tertinggal dari daerah Industri lainnya di
              Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

              "Kami meminta agar Gubernur Sumut mengabaikan surat edaran menteri tersebut. kami minta
              kenaikan UMP dan UMK di Sumut untuk tahun 2021 naik minimal 8 persen," tuntut Willy.

              Menurutnya, kenaikan upah minimum pada tahun depan justru akan mendongkrak pertumbuhan
              ekonomi  karena  ada  kenaikan  daya  beli  kaum  buruh.  Selain  itu,  kata  Willy,  tidak  semua
              perusahaan kesulitan akibat pandemi Covid-19.

              "Undang  Undang  Ketenagakerjaan  sudah  mengatur,  bagi  perusahaan  yang  nantinya  tidak
              mampu menaikkan upah dapat melakukan penangguhan, jadi kenapa dikondisikan seolah semua
              pengusaha tidak mampu menaikan upah," ungkap Willy.

              Sekretaris FSPMI Sumut Tony Rickson Silalahi menambahkan pihaknya telah memutuskan akan
              melakukan aksi unjuk rasa damai pada Senin (2/11). Massa aksi berasal dari perwakilan buruh
              FSPMI Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Batu Bara,
              Labuhanbatu dan Padanglawas.

              "Estimasi massa seribuan orang, aksi kita pusatkan di Kantor Gubernur Sumut dan Kantor DPRD
              Sumut," ungkap dia.

              "Kami mengusung tiga poin tuntutan, yakni agar Presiden RI mengeluarkan Perppu pencabutan
              UU Omnibus Law, menolak tegas tidak naik upah justru meminta pada Gubernur Sumut agar
              menaikan UMP dan UMK di Sumut sebesar 8% untuk tahun 2021, ketiga, selesaikan kasus kasus
              perburuhan di Sumut," urainya.

              (fnr/arh).
                                                          1015
   1011   1012   1013   1014   1015   1016   1017   1018   1019   1020   1021