Page 1144 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1144

PENGAMAT: PEMERINTAH FOKUS SEDIAKAN LAPANGAN KERJA KETIMBANG
              NAIKKAN UMP
              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021 pada
              Masa  Pandemi  Covid-19.  Keputusan  itu  disoroti  kaum  buruh  lantaran  tuntutan  mereka  akan
              kenaikan upah minimum ( UMP ) 2021 tidak terpenuhi.

              Namun  demikian,  Pengamat  Ketenagakerjaan  Payaman  Simanjuntak  berpandangan  bahwa
              pemerintah memang masih punya fokus lain yang ingin diselesaikan. Sebab, ia menilai 2021
              mendatang masih akan jadi tahun yang memprihatinkan.

              Menurut  dia,  meski  nantinya  pemerintah  telah  berhasil  menyediakan  vaksin  Covid-19  dan
              memulai  penyuntikan  massal,  namun  tetap  akan  masih  banyak  pembatasan  kerja  di  tahun
              depan.

              "Artinya, dunia usaha belum bisa bergerak cepat. Jadi pusat perhatian kita masih mengutamakan
              dapat  pekerjaan  daripada  kenaikan  upah,"  ujar  Payaman  kepada  Liputan6.com,  Selasa
              (27/10/2020).

              Penilaian tersebut tampak dapat dimaklumi, seiring dengan disahkannya Undang-Undang (UU)
              Omnibus Law Cipta Kerja yang kini gencar dikampanyekan untuk menyediakan lapangan kerja.

              Lebih lanjut, Payaman menyoroti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang
              Pengupahan. Secara aturan, ia menjelaskan, jika pertumbuhan ekonomi nasional negatif sekitar
              4 persen dan inflasi hanya 1-2 persen, maka upah minimum provinsi ( UMP ) atau upah minimum
              kabupaten/kota (UMK) 2021 justru seharusnya turun 2 persen.

              "Jadi dapat dimaklumi kalau Ibu Menteri Ketenagakerjaan mengambil kebijakan tidak menaikkan
              UMP/UMK  untuk  tahun  2021  ini.  Dan  itu  tidak  menutup  kemungkinan  menaikkan  upah  di
              perusahaan  yang  ternyata  bisa  berproduksi  optimal,  kenaikan  upah  dapat  dirundingkan,"
              ujarnya.

              Upah Minimum tahun 2021 (UMP 2021) dipastikan tidak naik. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran
              (SE) Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan
              Upah Minimum tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19.

              Dalam SE tersebut, Menteri Ida Fauziyah meminta kepada para gubernur di seluruh Indonesia
              untuk melakukan penyesuaian penetapan nilai Upah Minimum Tahun 2021 sama dengan nilai
              Upah Minimum tahun 2020. Dengan kata lain tidak ada kenaikan UMP 2021.

              Ketua  Umum  DPD  Himpunan  Pengusaha  Pribumi  Indonesia  (Hippi)  DKI  Jakarta,  Sarman
              Simanjorang mengatakan keputusan ini sudah sesuai dengan rumusan yang ditetapkan dalam
              PP  No.78  tahun  2015.  Yakni  UMP  Tahun  berjalan  ditambah  (UMP  tahun  berjalan  dikalikan
              Pertumbuhan ekonomi dan inflasi nasional tahun 2020).

              "Jika kita hitung malah minus, seharusnya UMP turun, tapi kan tidak mungkin UMP diturunkan,
              maka kenaikan 0 persen sudah sangat bijak," kata Sarman kepada Selasa (27/10/2020).

              Di sisi lain, Sarman beranggapan jika UMP dipaksakan untuk naik, maka implikasinya adalah
              terjadi PHK. Hal ini, kata Sarman, sebagai bentuk rasionalisasi pengusaha di tengah himpitan
              krisis pandemi covid-19 ini.
              Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  memutuskan  untuk  tidak  menaikkan  upah  minimum
              tahun  2021  (UMP  2021).  Hal  tersebut  tertuang  dalam  Surat  Edaran  (SE)  Menteri



                                                          1143
   1139   1140   1141   1142   1143   1144   1145   1146   1147   1148   1149