Page 1506 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1506

MENAKER IDA SEBUT KEPUTUSAN TAK NAIKKAN UMP 2021 ADALAH JALAN
              TENGAH
              Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, menanggapi polemik atas penerbitan Surat Edaran (SE)
              Nomor M/11/HK.04/2020 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2021 pada Masa Pandemi
              Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Menurutnya ketentuan tidak menaikkan upah minimum
              tahun 2021 (UMP 2021) dalam SE anyar itu merupakan jalan tengah yang diambil pemerintah.

              "Ini jalan tengah yang harus diambil oleh pemerintah dalam kondisi yang sulit dan tidak mudah.
              Perlindungan pengupahan kita jaga, keberlangsungan usaha harus kita perhatikan. Atas dasar
              itulah SE ini kami keluarkan," kata Menaker Ida di Jakarta, Selasa (27/10).

              Menurut  Menaker  Ida,  penerbitan  SE  tersebut  berdasarkan  kajian  yang  dilakukan  secara
              mendalam  oleh  Dewan  Pengupahan  Nasional  (Depenas)  terkait  dampak  Covid-19  terhadap
              pengupahan.  Mengingat  pandemi  Covid-19  telah  berdampak  kondisi  perekonomian  dan
              kemampuan perusahaan dalam memenuhi hak pekerja/buruh termasuk dalam membayar upah.
              SE tersebut juga dalam rangka memberikan perlindungan dan keberlangsungan bekerja bagi
              pekerja/buruh serta menjaga kelangsungan usaha. Alhasil perlu dilakukan penyesuaian terhadap
              penetapan upah minimum pada situasi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

              "Di samping itu tentu saja harus diingat bahwa pemerintah tetap memperhatikan kemampuan
              daya beli para pekerja melalui subsidi gaji/upah. Sesungguhnya bantalan sosial sudah disediakan
              oleh pemerintah. Jadi pemerintah tidak begitu saja menetapkan itu karena ada beberapa langkah
              yang sudah dilakukan," terangnya.

              KSPI Nilai Pemerintah Tak Peduli Kaum Buruh Sebelumnya, kritik keras dari diberikan Konfederasi
              Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) atas keputusan pemerintah yang tidak menaikkan UMP 2021.
              Presiden  KSPI,  Said  Iqbal,  menilai  keputusan  itu  menunjukkan  Menteri  Ida  tidak  memiliki
              sensitivitas terhadap buruh dan cenderung memanjakan pengusaha.
              "Menaker tidak memiliki sensitivitas nasib buruh, hanya memandang kepentingan pengusaha
              semata.  Aksi  perlawanan  buruh  akan  semakin  mengeras  terhadap  penolakan  tidak  adanya
              kenaikan upah minimum 2021 dan penolakan omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja," kata
              Said, Selasa (27/10).
              Iqbal  mengakui,  di  situasi  pandemi  saat  ini  seluruh  masyarakat  menghadapi  kondisi  sulit,
              termasuk pengusaha. Namun, katanya, rasa sulit jauh lebih dirasakan buruh.

              Oleh karena itu, dia berharap pemerintah dalam hal ini Menaker bersikap lebih adil dengan tetap
              menaikkan upah minimum 2021.

              "Tetapi bagi perusahaan yang tidak mampu, maka dapat melakukan penangguhan dengan tidak
              menaikkan upah minimum setelah berunding dengan serikat pekerja di tingkat perusahaan dan
              melaporkannya ke Kemenaker," kata Iqbal.

              "Jangan dipukul rata semua perusahaan tidak mampu. Faktanya di tahun 1998 pun tetap ada
              kenaikan upah minimum untuk menjaga daya beli masyarakat," tegasnya.

              Oleh karena itulah, kata Iqbal, buruh akan melakukan aksi nasional besar-besaran di 24 provinsi
              pada 2 November dan 9-10 November yang diikuti puluhan dan bahkan ratusan ribu buruh di
              Mahkamah  Konstitusi,  Istana,  DPR  RI,  dan  di  kantor  Gubernur  di  seluruh  Indonesia  dengan
              membawa isu batalkan omnibus law UU Cipta Kerja dan harus ada kenaikan upah minimum 2021
              untuk menjaga daya beli masyarakat.

              [bim]

                                                          1505
   1501   1502   1503   1504   1505   1506   1507   1508   1509   1510   1511