Page 1735 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1735

Sebelumnya,  tak  naiknya  Upah  Minimum  2021  tertuang  dalam  Surat  Edaran  Menteri
              Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah Nomor M/ll/HK .04/X/2020 tentang Penetapan Upah
              Minimum  Tahun  2021  Pada  Masa  Pandemi  Corona  Virus  Disease  2019  (COVID-19).  Surat
              tersebut ditujukan kepada para gubernur.



              UPAH MINIMUM 2021 TAK NAIK, BEGINI RESPONS BURUH JABAR

              Ribuan buruh dari gabungan berbagai serikat pekerja berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota
              Bandung pada Selasa (27/10/2020). Mereka menolak Upah Minimum 2021 yang ditetapkan tak
              naik atau sama dengan Upah Minimum 2020 karena situasi pandemi COVID-19.

              Sebelumnya,  tak  naiknya  Upah  Minimum  2021  tertuang  dalam  Surat  Edaran  Menteri
              Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah Nomor M/ll/HK .04/X/2020 tentang Penetapan Upah
              Minimum  Tahun  2021  Pada  Masa  Pandemi  Corona  Virus  Disease  2019  (COVID-19).  Surat
              tersebut ditujukan kepada para gubernur.

              Ketua  DPD  FSP  LEM  SPSI  Jabar  Muhamad  Sidarta  mengatakan  kondisi  pandemi  COVID-19
              seolah-olah menggiring buruh agar memaklumi tak naiknya Upah Minimum 2021. "Pemerintah
              sudah sejak awal menggulirkan opini itu, menggiring opini itu supaya rakyat, khususnya kaum
              buruh memaklumi kalau upah buruh 2021 tidak naik, akan disamakan dengan upah tahun 2020,"
              tutur Sidarta di Gedung Sate, Selasa (27/10).

              "Artinya apa? Pemerintah tidak pro rakyat, tidak pro buruh sebenarnya masalah seperti ini bukan
              pertama kali kita pernah krisis 98. Upah naik tidak masalah," dia melanjutkan.

              Sidarta mengatakan tahun depan belum tentu kondisi ekonomi tidak membaik. Berkaca dari
              pengalaman,  ujar  dia,  ekonomi  Indonesia  masih  bisa  terselamatkan  tanpa  harus  menunda
              kenaikan upah minimum bagi buruh.

              "Pemerintah tetap menaikkan upah buruh sebagai jaring pengaman yaitu upah minimum baik
              UMP, UMK dan UMSK sebagai jaring pengamanan," ucapnya.

              Menurut Sidarta, tak naiknya Upah Minimum 2021 akan berpengaruh pada daya beli masyarakat,
              yang buntutnya mengganggu pertumbuhan ekonomi secara nasional. "Kami menolak isi surat
              edaran tersebut, itu pasti akan memperlemah daya beli kaum buruh dan rakyat, karena upah
              buruh dibelanjakan untuk pedagang, ojek, untuk mengontrak rumah dibelanjakan lagi kalau daya
              beli (buruh) melemah tentu masyarakat lain juga melemah," tutur Sidarta.

              Ketua Umum Pimpinan Pusat FSP TSK SPSI Roy Jinto Ferianto mengatakan sedianya ada lima
              tuntutan yang dibawa gabungan serikat pekerja dalam unjuk rasa itu. Di samping menolak tak
              naiknya Upah Minimum 2021, buruh juga mendesak agar Omnibus Law UU Cipta Kerja dicabut.
              "UU Cipta Kerja itu cacat formal dari jumlah halamannya, artinya menandakan bahwa terjadi
              kekacauan  dan  DPR  tidak  siap  melakukan  pengesahan.  Kami  melakukan  mosi  tidak  percaya
              kepada DPR RI khususnya fraksi yang menyetujui Omnibus Law ini," kata Roy.

              Tuntutan lainnya adalah agar gubernur mengakomodir rekomendasi UMK dan UMSK dari bupati
              untuk daerah Bogor, Bekasi dan Karawang. Pihaknya pun mendesak agar upah minimum buruh
              naik minimal 8 persen. "Yang datang hanya perwakilan dari berbagai daerah ini mendadak, rapat
              ini  hari  Minggu  dilakukan  Senin,  tahu-tahu  malam  keluar  surat  edaran.  Makanya  perwakilan
              datang  ke  sini  kita  akan  melakukan  aksi  lanjutan  pada  5,9,20  dan  21  November  untuk  aksi
              serentak mogok di seluruh wilayah Jawa Barat," ujar Roy.



                                                          1734
   1730   1731   1732   1733   1734   1735   1736   1737   1738   1739   1740