Page 1850 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1850

ALASAN PEMERINTAH TOLAK KENAIKAN UPAH MINIMUM TAHUN DEPAN

              Menteri  Ketenagakerjaan  (  Menaker  ),  Ida  Fauziyah,  memastikan  tak  ada  kenaikan  upah
              minimum  di  tahun  depan,  baik  upah  minimum  provinsi  (  UMP  )  maupun  upah  minimum
              kabupaten/kota  (  UMK  ).  Hal  itu  tertuang  dalam  Surat  Edaran  Nomor  M/11/HK.04/X/2020
              tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2021 pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019
              (  Covid-19  ).  Alasan  pemerintah  tidak  menaikkan  upah  minimum  2021  yakni  karena  kondisi
              ekonomi Indonesia saat ini dalam masa pemulihan. Menurut pemerintah, kenaikan upah tahun
              2021 justru akan memberatkan dunia usaha.

              "Dalam rangka memberikan perlindungan dan kelangsungan bekerja bagi pekerja/buruh serta
              menjaga kelangsungan usaha, perlu dilakukan penyesuaian terhadap penetapan upah minimum
              pada situasi pemulihan ekonomi di masa pandemi covid-19," kata Ida dalam surat edarannya
              seperti dikutip pada Selasa (27/10/2020).

              Surat edaran tersebut diteken pada 26 Oktober 2020. Dengan begitu, upah minimum tahun
              depan sama dengan tahun ini, atau tidak mengalami kenaikan ataupun penurunan.

              Ida meminta gubernur untuk melaksanakan penetapan upah minimum setelah tahun 2021 sesuai
              ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya, upah minimum 2021 ini secara resmi
              akan ditetapkan dan diumumkan oleh semua pemerintah daerah pada akhir Oktober 2020.
              "Mempertimbangkan  kondisi  perekonomian  Indonesia  pada  masa  pandemi  Covid-19  dan
              perlunya  pemulihan  ekonomi  nasional,  diminta  kepada  Gubernur  untuk:  1.  melakukan
              penyesuaian  penetapan  nilai  Upah  Minimum  Tahun  2021  sama  dengan  nilai  Upah  Minimum
              Tahun 2020," kata Ida.

              Sebagai informasi, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015, formula penentuan
              kenaikan  upah  minimum  didapat  dari  hasil  pertambahan  inflasi  dan  pertumbuhan  ekonomi.
              Sebelumnya, kalangan pengusaha meminta agar pemerintah tidak menaikan upah minimum,
              baik  kabupaten/kota  (UMK)  ataupun  upah  minimum  provinsi  (UMP)  pada  tahun  depan.
              Alasannya, kondisi ekonomi saat ini masih sulit karena terdampak pandemi Covid-19.

              Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia DKI Jakarta, Sarman Simanjorang,
              mengatakan jika perhitungan UMK didasarkan pada aturan yang masih berlaku yakni PP Nomor
              78 Tahun 2015, maka sebenarnya tidak ada kenaikan upah minimum di tahun 2021.

              "Kalau  menggunakan  rumusan  UMP  dan  UMK  masih  pakai  PP  Nomor  78  Tahun  2015  itu
              kelihatannya  tidak  ada  kenaikan.  Sesuai  rumusnya,  kenaikannya  nol  persen,"  kata  Sarman
              dikonfirmasi Kompas.com .

              Dijelaskan Sarman, dalam regulasi perhitungan kenaikan upah minimum tahun berikutnya yakni
              didasarkan  pada  upah  minimum  tahun  berjalan  dikalikan  dengan  inflasi  plus  pertumbuhan
              ekonomi.
              "Nah sekarang kalau pakai hitungan itu, sekarang pertumbuhan ekonomi dalam setahun bisa
              saja diperkirakan nol persen atau mungkin minus. Lalu kemudian tahun ini mengalami deflasi,
              bukan inflasi," ujar Sarman.

              "Artinya kalau pakai perhitungan PP Nomor 78 Tahun 2015, maka tidak perlu ada kenaikan UMP
              dan UMK," imbuh Sarman yang juga menjabat Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta ini.

              Sejumlah serikat buruh sendiri meminta pemerintah menetapkan kenaikan upah minimum tahun
              depan.  Namun  akhirnya  pemerintah  menolak  untuk  menaikkan  standar  upah  tahun  2021.
              (Sumber: /Ade Miranti | Editor: Erlangga Djumena).


                                                          1849
   1845   1846   1847   1848   1849   1850   1851   1852   1853   1854   1855