Page 1919 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1919

INI ALASAN MENAKER IDA FAUZIYAH TAK NAIKKAN UMP 2021

              Pemerintah  memutuskan  untuk  tidak  menaikkan  Upah  Minimum  Provinsi  tahun  2021  (UMP
              2021). Dengan begitu nilai UMP 2021 akan sama dengan UMP 2020.

              Keputusan pemerintah tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Republik
              Indonesia Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021 pada Masa
              Pandemi COvid-19.

              Dikutip dari surat tersebut, Selasa (27/10/2020), Menteri Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah
              menyatakan  bahwa  alasan  tidak  naiknya  UMP  2021  untuk  memberikan  perlindungan  dan
              kelangsungan usaha.

              Menurut Ida, pandemi Covid-19 telah berdampak pada kondisi perekonomian dan kemampuan
              perusahaan dalam memenuhi hak pekerja dan buruh termasuk dalam membayar upah.
              "Dalam rangka memberikan perlindungan dan kelangsungan usaha, perlu dilakukan penyesuaian
              terhadap penetapan upah minimum pada situasi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-
              19," tulis SE tersebut.

              Atas dasar hal tersebut, Menteri Ida meminta kepada para gubernur di seluruh Indonesia untuk
              melakukan penyesuaian penetapan nilai Upah Minimum Tahun 2021 sama dengan nilai Upah
              Minimum tahun 2020. Dengan kata lain tidak ada kenaikan UMP 2021.

              Direktur Pengupahan Kemnaker, Dinar Titus Jogaswitani menambahkan, dalam SE tersebut tidak
              ada kata kenaikan sehingga UMP 2021 sama dengan tahun ini.

              "Jadi nilai upah minimum 2021 sama dengan nilai upah minimum 2020. Tidak ada kenaikan dan
              di SE tidak ada kata kenaikan," tegas Dinar Titus Jogaswitani.

              Sebelumnya,  Presiden  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  Said  Iqbal  mengatakan,
              buruh  Indonesia  meminta  agar  upah  minimum  tahun  2021  naik.  Dia  menolak  permintaan
              kalangan pengusaha yang meminta agar di tahun depan tidak ada kenaikan upah minimum.

              Menurutnya,  kenaikan  upah  yang  ideal  adalah  sebesar  8  persen.  Hal  ini  didasarkan  pada
              kenaikan upah rata-rata selama 3 tahun terakhir.

              Jika upah minimum tidak naik, kata Said Iqbal, hal ini akan membuat situasi semakin panas.
              Apalagi saat ini para buruh masih memperjuangkan penolakan terhadap UU Cipta Kerja.

              Di  mana  seiring  dengan  penolakan  omnibus  law,  buruh  juga  akan  menyuarakan  agar  upah
              minimum 2021 tetap naik. Sehingga aksi-aksi akan semakin besar.

              Menurut Iqbal, alasan upah tidak naik karena saat ini pertumbuhan ekonomi minus tidak tepat.
              Bandingkan dengan apa yang terjadi pada tahun 1998, 1999, dan 2000.
              "Sebagai contoh, di DKI Jakarta, kenaikan upah minimum dari tahun 1998 ke 1999 tetap naik
              sekitar 16 persen, padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1998 minus 17,49 persen. Begitu juga
              dengan upah minimum tahun 1999 ke 2000, upah minimum tetap naik sekitar 23,8 persen,
              padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1999 minus 0,29 persen," kata Said Iqbal.
              "Jadi  tidak  ada  alasan  upah  minimum  tahun  2020  ke  2021  tidak  ada  kenaikan  karena
              pertumbuhan  ekonomi  sedang  minus.  Saat  Indonesia  mengalami  krisis  1998,  di  mana
              pertumbuhan ekonomi minus di kisaran 17 persen tapi upah minimum di DKI Jakarta kala itu
              tetap naik bahkan mencapai 16 persen," ujarnya.




                                                          1918
   1914   1915   1916   1917   1918   1919   1920   1921   1922   1923