Page 155 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 155
ini karena baik masyarakat yang tinggal di pesisir maupun di pedalaman ternyata hidup
15
dalam sebuah ketergantungan akan laut. Ke dua kelompok masyarakat tersebut hidup
dalam kondisi hubungan yang resiprokal, bahkan pada titik tertentu ada hasrat untuk
saling mengendalikan. Oleh karena itu, pembelajaran sejarah maritim juga berperan
untuk untuk melihat seberapa penting peran laut bagi masyarakat pedalaman. Hal ini
bermuara pada penguatan tentang kontribusi laut dalam kehidupan masyarakat secara
keseluruhan.
Pentingnya aspek kemaritiman dalam masyarakat Indonesia yang tertuang dalam
sejarah maritim pada dasarnya memiliki relevansi dalam pelajaran sejarah di sekolah.
Beberapa aspek dominan dari kajian maritim yang terintegrasi dengan struktur
17
16
kurikulum terutama dalam aspek (1) perniagaan, (2) pelayaran dan eksplorasi, (3)
18
persilangan budaya dan inkorporasi gagasan, (4) peperangan dan perlawanan, dan (5)
19
penguasaan wilayah dan politik kelautan. Hal ini tampak dari materi yang ada dalam
buku pegangan untuk kurikulum 2013.
20
Tabel 1. Kompetensi Dasar (KD) Kurikulum 2013 & Kesesuaian Aspek Kemaritiman
Kelas Kompetensi Dasar Aspek Kemaritiman Materi yang sesuai
X 3.3 Menganalisis asal-usul nenek Persilangan budaya Persebarnan proto
moyang bangsa Indonesia (Proto, dan inkorporasi dan deutro melayu.
Deutero Melayu dan Melanesoid). gagasan
3.5 Menganalisis berbagai teori 1. Perniagaan Proses Indianisasi
tentang proses masuk dan 2. Persilangan
berkembangnya agama dan budaya dan
kebudayaan Hindu-Buddha di inkorporasi
Indonesia. gagasan
3.6 Menganalisis karakteristik 1. Perniagaan Sriwijaya sebagai
kehidupan masyarakat, 2. Peperangan dan negara maritim
15
Bambang Budi Utomo. Op.cit. Hlm. 3.
16
Aspek ini terutama berhubungan dengan kepemilikan modal, sistem perdagangan, komoditas-
komoditas perdagangan, sumber-sumber penghasil barang, serta perkembangan pelabuhan. Lihat A.B.
Lapian. 2008. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara abad ke-16 dan 17. Depok: Komunitas Bambu.
Hlm. 59-88.
17 Aspek ini berhubungan dengan teknologi pelayaran, jenis-jenis kapal, serta jalur-jalur pelayaran. Ibid.
hlm. 1-40.
18
Aspek ini berhubungan dengan naval power atau kekuatan armada laut dan konflik yang terjadi di
lautan. Lihat Abd Rahman Hamid. 2015. Sejarah Maritim Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Hlm. 27.
19
Aspek ini berhubungan dengan sea power atau penguasaan atas wilayah laut atau untuk menjamin
kelancaran pelayaran dan perdagangan, serta kebijakan politik tentang laut. Ibid. hlm. 27
20 Diolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013a. Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK
Kelas X Semester 1. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. 2013b. Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Semester 2. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014a. Sejarah
Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Semester 1. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014b. Sejarah Indonesia
SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Semester 2. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2015. Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII.
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
6

