Page 150 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 150
MENGUATKAN VISI KEMARITIMAN DALAM PEMBELAJARAN DI
WILAYAH PEDALAMAN
Tsabit Azinar Ahmad
Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang
azinarahmad@mail.unnes.ac.id
ABSTRAK
Visi kemaritiman menjadi salah satu isu sentral yang tengah diusung oleh
kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Perkembangan ini tentu saja berimbas dengan
pengembangan aspek kemaritiman dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang
pendidikan. Sebagai bagian dari pendidikan nasional, mata pelajaran sejarah juga
memiliki peran dalam menguatkan visi kemaritiman melalui pembelajaran sejarah
maritim. Akan tetapi, pengembangan pembelajaran sejarah maritim bukan tanpa
kendala, terutama apabila disampaikan pada wilayah yang tidak berada di kawasan
pesisir. Oleh karena itu, tulisan fokus pada upaya untuk (1) menganalisis urgensi dan
relevansi terhadap pembelajaran sejarah maritim dalam kurikulum mata pelajaran
sejarah; (2) mengidentifikasi permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam
implementasi pembelajaran sejarah maritim; (3) merumuskan gagasan dan strategi yang
direkomendasikan dalam menerapkan pembelajaran sejarah maritim di wilayah yang
tidak berbasis maritim. Secara umum, kurikulum pelajaran sejarah sangat terbuka untuk
dikaitkan dengan konten-konten alternatif, termasuk sejarah maritim. Selain itu, sejarah
maritim sebenarnya adalah proses yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah nasional
secara keseluruhan, sehingga keberadaan sejarah maritim dalam pembelajaran sejarah
menjadi faktor yang melekat. Akan tetapi, pembelajaran sejarah maritim akan
mengalami kendala ketika disampaikan pada wilayah-wilayah yang tidak bersinggungan
langsung dengan aspek kemaritiman. Hal ini terjadi misalnya pada daerah yang ada di
kawasan pedalaman atau pegunungan, notabene berbasis agraris. Pembelajaran sejarah
maritim seolah menjadi sesuatu yang “asing” dan out of context ketika disampaikan.
Namun demikian, bukan berarti hal ini menjadi argumen bahwa pembelajaran sejarah
maritim tidak relevan untuk disampaikan kepada siswa yang memiliki konteks kultural
yang berbeda. Sejarah maritim seolah menjadi out of context untuk disampaikan di
wilayah pedalaman karena selama ini belum ada upaya dalam menerapkan strategi
kontekstualisasi dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, perlu ada strategi
kontekstualisasi dalam pembelajaran sejarah maritim. Upaya pertama yang perlu
dilakukan adalah melakukan strategi linking dan bridging dalam pembelajaran sejarah.
Dalam menerapkan strategi linking, prinsip yang perlu dipegang adalah kontinuitas,
yakni bahwa tidak ada peristiwa sejarah yang berjalan sendiri. Artinya, akan selalu ada
keterkaitan antarperistiwa pada kurun waktu yang sama. Dengan demikian,
pembelajaran ditekankan untuk mencari hubungan antara peristiwa di peisisir dan
pedalaman. Strategi kedua adalah bridging. Pada tahap ini, pembelajaran perlu
menjembatani perbedaan kultur melalui upaya “menghadirkan” suasana kemaritiman ke
dalam kelas. Strategi ini diterapkan dengan menerapkan “alih media” serta pemilihan
metode belajar yang sesuai. Dengan demikian, diharapkan penguatan visi maritim
dapat dilakukan di manapun dan kontekstual dalam lingkungan budaya yang beraneka
ragam.
1

