Page 104 - 04 Panggung Seumur Jagung
P. 104

PANDJI POESTAKA





                      Majalah mingguan Pandji Poestaka menjadi
                      salah satu media propaganda  saat itu. Salah
                      satu penyampaian propaganda ialah melalui
                      karya sastra puisi, cerpen, teks drama,
                      maupun cerita anak-anak.

                      Pandji Poestaka menggunakan bahasa
                      Melayu yang diterbitkan oleh Balai Pustaka
                      pada zaman penjajahan Belanda. Pandji
                      Poestaka pertama kali terbit tahun 1923.
                      Mulannya, pada 1918 terbit majalah Sri   Uang sisanya ditabung di dalam tabung
                      Poestaka. Majalah ini memuat artikel   pekaknya yang terbuat dari sebuluh bambu.
                      mengenai berita-berita baik dari dalam,   Salah satu bentuk propaganda Jepang
                      maupun luar negeri, ditambah lagi cerita   adalah menabung untuk pembentukan
                      bersambung, hikayat, dan syair lama.   negara makmur bersama Asia Timur Raya.
                      Namun, pada 1931 majalah Sri Poestaka
                      berhenti terbit dan hanya menjadi lampiran   Suatu hari, dia membongkar uang
                      Pandji Poestaka hingga tahun 1938. Majalah   tabungannya. Uangnya dihitung untuk
                      Pandji Poestaka terbit sampai tahun 1945.   membeli baju baru, celana baru, dan kopiah   93
                      Sejak 1926 majalah ini terbit dua kali   berbulu merah.
                      seminggu dan berisi berita aktual dalam
                      dan luar negeri, penerangan bagi penduduk   Berikut adalah kutipan percakapan antara
                      pribumi mengenai peristiwa dalam negeri,   Abas dan Ratna, adiknya.
                      ilmu pengetahuan, petunjuk teknis, dan
                      karya-karya sastra.                  “Apa jang akan abang belikan oentoek     BUKU 4  |  Panggung Seumur Jagung
                                                           saja?” kata si Ratna sambil memandang si
                      Dalam majalah Pandji Poestaka terdapat   Abas.
                      cerita dalam rubik Taman Kanak-kanak
                      berisi teladan dan indoktrinasi mengenai   “Nanti abang belikan ‘kau, djepitan ramboet
                      keunggulan Jepang. Salah satunya dikutip   koepoe-koepoe koening,” djawab si Abas.
                      dalam majalah Pandji Poestaka.
                                                           “Djangan jang koening, bang, jang merah!
                      “Berhati Emas” (Dipetik dari Tjerita Goeroe):   Ana soeka jang merah matjam kopiah
                      Menceritakan tentang Si Abas yang hemat.   abang.”
                      Setiap diberi uang sebenggol hanya
                      dibelanjakan satu sen. Sisanya dibawanya   “Baik, nanti abang belikan jang merah
                      pulang. Nasihat gurunya masuk ke hatinya:   matjam bendera Nippon,” kata si Abas.
                      Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai.
   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109