Page 199 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 199

keluarga, sosial/budaya, perdagangan lintas batas, tugas pemerintahan, dan tujuan-
                            tujuan lain yang disepakati oleh kedua pihak (Raharjo, 2018: 6).

                            Untuk perdagangan lintas batas, kedua negara secara khusus menyepakati Agreement
                            on  Border  Trade  between  the  Government  of  the  Republic  of  Indonesia  and  the
                            Government  of  the  Malaysia  di  Jakarta  pada  tanggal  24 Agustus  1970. Menurut
                            persetujuan  ini,  perdagangan  lintas  batas  laut dapat memakai  perahu dengan
                            kapasitas maksimal 20 meter kubik (20 m³), dan nilai barang dagangannya maksimal
                            600 ringgit Malaysia per perahu per perjalanan (Raharjo, 2018: 8). Komoditas yang
                            boleh  diperdagangkan  dari  Indonesia  adalah  produk pertanian  dan  produk lain
                            dari  kawasan perbatasan,  kecuali  bahan tambang (mineral), minyak,  dan bijih-
                            bijihan (ores). Sementara itu, komoditas dari Malaysia yang dapat diperdagangkan
                            adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari, termasuk peralatan dan perkakas yang
                            dibutuhkan oleh industri di kawasan perbatasan Indonesia.

                            Adapun pihak yang dapat diizinkan melakukan perdagangan lintas-batas tradisional
                            ini  hanyalah  penduduk kawasan  perbatasan  kedua  negara.  Di  sisi  Indonesia,
                            kecamatan yang terdaftar sebagai kawasan perbatasan laut dengan Malaysia adalah
                            Kubu,  Bangko,  Rupat,  Bengkalis,  Bukit Batu,  Merbau,  Rengsang  (Rangsang),
                            Kabupaten Kampar termasuk Kecamatan Kuala Kampar, bagian-bagian administratif
                            Kabupaten Kepulauan Riau, Pulau Tambelan, dan Nunukan. Pada waktu itu, Natuna
                            merupakan  bagian  dari  Kabupaten Kepulauan  Riau. Di  sisi  Malaysia,  kawasan
                            perbatasan yang termasuk dalam perjanjian di atas adalah Johor Bahru, Batu Pahat,
                            Malaka, Port Swettenham, Penang, Sematan, Kuching, Lundu, Tawau, dan daerah lain
                            yang mungkin diakui kemudian.

                            Dalam praktiknya, warga Serasan dan Subi, Kabupaten Natuna banyak melakukan
                            aktivitas lintas batas ke Sematan, Serawak, dan Malaysia (Rusdianto, 2014). Mereka
                            biasa membeli barang kebutuhan pokok di Malaysia melalui jalur laut yang ditempuh
                            selama 4—5 jam perjalanan (Indrawan,  2016). Namun, status kerja  sama yang
                            hanya memfasilitasi perdagangan tradisional dengan kuota 600 ringgit/bulan/orang
                            atau 600 ringgit/perahu dirasa terlalu kecil bagi masyarakat, terutama mereka yang
                            membeli barang di Malaysia untuk dijual kembali di Serasan dan Subi. Oleh karena
                            itu, pemerintah daerah sudah mengusulkan pembangunan Pos Lintas Batas Negara
                            (PLBN) kepada pemerintah pusat (Ariyanto, 2018). Pembukaan PLBN di Serasan
                            tidak hanya  akan memfasilitasi  kegiatan lintas  batas  dan perdagangan tradisional
                            saja, tetapi juga akan memfasilitasi kegiatan lintas batas bagi warga nonperbatasan
                            pemegang paspor dan perdagangan ekspor-impor, seperti yang selama ini berjalan di
                            PLBN Entikong di Kalimantan Barat.

                            Selain  kerja  sama  lintas  batas  di  atas,  Indonesia  dan  Malaysia  juga  menyepakati
                            kerja  sama lintas  batas  dalam pengamanan daerah  perbatasan melalui Security
                            Arrangement in  the  Border Regions between the  Government of the  Republic  of
                            Indonesia and the Government of Malaysia tanggal 3 Desember 1984 di Yogyakarta.



              182                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204