Page 202 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 202

karena Vietnam tampak lebih memberikan perhatian terhadap isu keamanan nasional
                 yang bersifat tradisional. Beberapa isu yang menjadi perhatian Vietnam berkaitan
                 dengan mempertahankan garis pantai berbentuk S dari invasi, mendapatkan kontrol
                 eksklusif terhadap sumber daya alam yang ada, baik di permukaan maupun di dalam
                 landas kontinen, menekan penyelundupan, pembajakan, dan kegiatan ilegal lainnya
                 dalam radius 12 mil laut teritorialnya (Tønnesson, 2000: 199—200).


                 Sebagai  akibat dari  belum selesainya  delimitasi  ZEE Indonesia-Vietnam, banyak
                 nelayan yang bingung dengan batas wilayah kedua negara sehingga sering terjadi
                 pelanggaran batas wilayah. Hal ini dapat terlihat dari data Kementerian Kelautan dan
                 Perikanan RI (2017: 40) yang menyatakan bahwa sampai dengan bulan Maret 2017,
                 54 kapal Vietnam telah ditangkap dengan dugaan penangkapan ikan secara ilegal di
                 wilayah Indonesia. Besarnya jumlah kapal Vietnam yang melakukan penangkapan
                 ikan ilegal menyebabkan sekitar 25 persen ikan tuna hasil tangakapan kapal-kapal
                 Vietnam berasal dari perairan ZEE Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan,
                 2017: 39). Jika batas ZEE masih belum juga disepakati, masalah pencurian ikan dan
                 penangkapan kapal  Vietnam di  perairan Indonesia,  terutama di wilayah  Natuna
                 kemungkinan  masih  akan  terus  terjadi.  Hal  itu  dapat  meningkatkan  ketegangan
                 hubungan kedua negara.




                 B.  Natuna dalam Dinamika Regional Asia Tenggara

                 Dinamika Konflik dan penyelesaian sengketa Laut China Selatan 2

                 Wilayah  Natuna berbatasan langsung dengan Laut China  Selatan yang saat ini
                 kepemilikannya  disengketakan  oleh  beberapa  negara.  Laut China  Selatan  adalah
                 perairan yang terletak di kawasan Asia Tenggara. Perairan ini dikelilingi oleh banyak
                 negara, yaitu Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Brunei, dan Filipina.
                 Selain berbentuk perairan yang luas, di wilayah ini juga terdapat kepulauan-kepulauan
                 kecil seperti Paracel, Scarborough, dan Spratly. Dari fitur-fitur geografi yang ada di
                 Laut China Selatan, Kepulauan Spratly menjadi inti perebutan sebagian besar negara-
                 negara yang bersengketa. Kepulauan ini merupakan kumpulan pulau karang yang
                 luas  daratannya  kurang dari  4 km², tetapi  melingkupi  lautan seluas  250.000  km².
                 Pulau-pulau yang terdapat di area tersebut tidak berpenghuni dan relatif tidak ada
                 aktivitas  ekonomi di daratannya.  Kepulauan Spartly terdiri  atas  230 pulau kecil,
                 karang, gundukan pasir, dan fitur lain yang terletak di bagian selatan dari Laut China
                 Selatan (The Adelphi Papers, 2006; Raharjo, 2014).


                 Sengketa ini dimulai pada tahun 1946 ketika Tiongkok mengklaim bahwa Kepulauan
                 Spratly adalah bagian dari Provinsi Guangdong. Padahal, kepulauan di wilayah Laut

                 2   Sebagian besar tulisan pada subbab ini merupakan bagian dari tulisan Sandy Nur
                   Ikfal Raharjo. 2014. “Peran Indonesia dalam Penyelesaian Sengketa Laut Tiongkok
                   Selatan.” Jurnal Penelitian Politik Volume 11(2): 55-70.


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          185
   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207