Page 200 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 200

Kerja sama ini dilakukan dalam bentuk operasi gabungan dan pengejaran terhadap
                 ancaman keamanan di perbatasan kedua negara (Raharjo, 2018: 8).

                 Indonesia-Vietnam


                 Natuna merupakan satu dari dari dua kabupaten yang berbatasan dengan Vietnam.
                 Kabupaten yang lain adalah Kepulauan Anambas yang dulu juga menjadi bagian dari
                 Natuna, tetapi sudah dimekarkan pada tahun 2008 (UU No. 33, 2008).  Batas wilayah
                 Natuna dengan Vietnam terdiri atas dua jenis, yaitu batas landas kontinen dan ZEE.
                 Untuk batas landas kontinen, Indonesia dan Vietnam sudah menyepakati “Agreement
                 Between the Government of The Republic Indonesia and The Government of The
                 Socialist Republic of Vietnam Concerning The Delimitation of The Continental Shelf
                 Boundary” pada tanggal 26 Juni 2003 di Hanoi. Perjanjian tersebut ditandatangani
                 oleh Menteri Luar Negeri kedua negara, yaitu Hassan Wirajuda dan Nguyen Dy Nien.
                 Indonesia kemudian meratifikasi perjanjian tersebut melalui UU No. 18 Tahun 2007.
                 Dengan demikian, status batas landas kontinen Indonesia dan Vietnam sepanjang
                 251,03 mil laut atau sekitar 464,9 km telah disepakati sepenuhnya (100%) (BNPP,
                 2015, 53).

                 Pada jenis batas wilayah kedua, yaitu ZEE, kedua negara masih belum sampai pada
                 titik kesepakatan. Vietnam sebagai negara pantai merasa berhak menarik garis batas
                 ZEE sepanjang 200 mil laut. Demikian pula Indonesia sebagai negara kepulauan juga
                 berhak menarik garis batas ZEE sampai sejauh 200 mil laut dari garis pangkal lurus
                 kepulauannya, yang ditarik dari titik dasar di Pulau Semiun, Sebetul, dan Sekatung.
                 Hal itu menjadi makin kompleks karena penetapan batas ZEE Indonesia-Vietnam
                 juga kemungkinan akan memengaruhi batas ZEE Indonesia-Malaysia dan Malaysia-
                 Vietnam (Government of Malaysia and Socialist Republic of Vietnam, 2009).

                 Selain  itu,  sengketa  batas  ZEE Indonesia-Vietnam  juga  diwarnai  oleh  kerumitan
                 terkait dengan administrasi pengelolaan kawasan perbatasan di kedua negara. Pada
                 sisi Indonesia, pemerintah telah membentuk Badan Nasional Pengelola Perbatasan
                 (BNPP)  yang mengoordinasikan pembuatan, pelaksanaan, dan evaluasi  kebijakan
                 garis batas negara dan kawasan perbatasan (PP No. 12, 2010). BNPP menjadi badan
                 koordinasi bagi berbagai kementerian, lembaga negara, dan pemerintah daerah yang
                 menjadi pemangku kepentingan urusan perbatasan di Indonesia.

                 Sementara itu, Vietnam tidak memiliki kebijakan atau rencana pengelolaan khusus
                 mengenai  perbatasan.  Vietnam  hanya  memiliki  badan  khusus  bernama  Vietnam
                 Border Defense Force (Unit Pertahanan Perbatasan Vietnam) yang menjadi salah satu
                 cabang dari tentara rakyat Vietnam dan tidak memiliki kebijakan ataupun rencana
                 pengelolaan khusus. Badan ini adalah sebuah badan khusus bentukan pemerintah untuk
                 memperkuat pertahanan dan keamanan (BNPP, 2015, 53—54). Unit ini bertanggung
                 jawab  atas  pelindungan  kedaulatan,  integritas,  keutuhan  teritorial,  kemanan  dan
                 ketertiban yang terjadi dalam wilayah-wilayah perbatasan, baik di daratan, pulau-
                 pulau, wilayah maritim dan gerbang perbatasan (BNPP, 2015, 53—54). Hal itu terjadi


                 Mutiara di Ujung Utara                                                          183
   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205