Page 47 - 13.PENERAPAN TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN ..
P. 47
Teori Belajar Kognitif
Nani, seorang anak kecil bertanya pada ayahnya. Bagaikan seorang guru,
Nani mengajukan pertanyaan sehingga terjadi percakapan sebagai berikut.
Nani (N): “Ayah, dua ditambah dua ada berapa? Ayo …!”
Ayah (A): “Menurut Nani?”
N: “Ayah dulu.”
A: “Ya. Ya. Dua tambah dua sama dengan empat.”
N: “Betul.” Ia berlagak seperti guru yang membenarkan jawaban siswanya.
A: “Tahu dari mana bahwa dua tambah dua sama dengan empat?”
N: “Dari Ari. Ari tahu dari bapaknya.”
A: “Nani percaya?”
N: “Ya. Bapaknya Ari kan pintar.”
A: “Kenapa dua tambah dua sama dengan empat?”
N: “Ya karena dua tambah dua sama dengan empat.”
A: “Kalau satu tambah dua?”
N: “Nani belum tahu.”
A: “Kenapa?”
N: “Ari belum memberi tahu. Mungkin bapaknya belum mengajarinya.”
A: “Kalau satu tambah satu?”
N: “Dua.”
A: “Yang benar?”
N: “Tiga … tiga … tiga … .”
A: “Yang benar. Masak tiga.”
N: “Empat … empat … ! Lima …! Tujuh … tujuh … . Kalau begitu berapa?”
A: “Ya dua.”
N: “Tadi Nani kan sudah bilang dua. E … Ayah bohong ya.”
Teori belajar Ausubel menitikberatkan pada bagaimana seseorang memperoleh
pengetahuannya. Menurut Ausubel terdapat dua jenis belajar yaitu belajar hafalan
(rote-learning) dan belajar bermakna (meaningful-learning). Menurut Anda, proses
pembelajaran yang dilakukan Nani termasuk belajar hafalan (rote-learning) ataukah
belajar bermakna (meaningful-learning)? Mengapa? Lalu apa pengertian belajar
hafalan? Apa pengertian belajar bermakna (meaningful-learning)?
1. Belajar Hafalan
Setujukah Anda jika proses pembelajaran yang dilakukan Nani di atas termasuk
belajar hafalan (rote-learning)? Mengapa? Apa kekurangan pembelajaran hafalan?
32

