Page 402 - BUKU BERKARYA DI TENGAH PANDEMI
P. 402

BERKARYA DI TENGAH PANDEMI
                                SATU TAHUN KINERJA M. AZIS SYAMSUDDIN
                                WAKIL KETUA DPR RI BIDANG KORPOLKAM











                     LANjUTAN:

                     • Selain mekanisme yang berawal dari laporan pihak pelapor (dikenal
                      dengan mekanisme bottom up), dikenal pula mekanisme yang
                      berawal dari inisiatif instansi peminta baik di dalam maupun di luar
                      negeri (dikenal dengan mekanisme top down).
                     • instansi peminta dapat meminta informasi kepada PPATK berupa
                      informasi dan/atau hasil analisis terkait Transaksi Keuangan yang
                      berindikasi tindak pidana Pencucian Uang dan tindak pidana lainnya.
                      Bagan berikut ini dapat menggambarkan secara singkat fungsional
                      antar pemangku kepentingan dalam rezim memerangi Pencucian
                      Uang di Indonesia.





                     PPATK
                     • Berasarkan Pasal 31, Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan bagi Pihak
                      Pelapor dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATK.
                     • Dalam hal Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan tidak dilakukan atau belum
                      terdapat Lembaga Pengawas dan Pengatur, Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban
                      pelaporan dilakukan oleh PPATK.
                     • Selanjutnya, dalam ketentuan Pasal 18 UU TPPU, antara lain diatur bahwa Lembaga
                      Pengawas dan Pengatur menetapkan ketentuan prinsip mengenali Pengguna Jasa. Dalam
                      hal belum terdapat Lembaga Pengawas dan Pengatur, ketentuan mengenai prinsip
                      mengenali Pengguna Jasa dan pengawasannya diatur dengan Peraturan Kepala PPATK.
                     • Khusus berkenaan dengan ketentuan pembawaan uang tunai dan instrumen pembayaran
                      lainnya yang keluar atau masuk wilayah pabean RI menjadi kewenangan Direktorat
                      Jenderal Bea dan Cukai berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang
                      Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006,
                      dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah
                      dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,
                      merupakan salah satu Unit di bawah Kementerian Keuangan yang juga bagian dari rezim
                      anti pencucian uang terkait dengan pelaporan Cross Border Cash Carrying (CBCC).
                      Pengaturan lebih lanjut mengenai Pelaporan Pembawaan Uang Tunai (LPUT/ CBCC) diatur
                      dalam Peraturan Direktorat Jenderal Bea Cukai Nomor 1 Tahun 2005.






                                           394
   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407