Page 153 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 153
Land Reform Lokal A La Ngandagan
55
Suparman, dan Darmanto. Setelah itu perkembangan
agama Katolik kian pesat dan banyak dianut oleh warga
dusun Karang Turi. Pada awalnya aktifitas keagamaan
dilakukan secara berpindah-pindah dari rumah ke rumah.
Seiring bertambahnya jumlah pemeluk agama Katolik,
akhirnya pada tanggal 2 November 1969 didirikanlah
kapel di dusun Karang Turi yang kemudian berkembang
lagi menjadi Gereja Setasi St Markus.
Demikianlah, konversi agama di Ngandagan memang
sangat terkait dengan situasi politik pedesaan yang ada
di sana pada pertengahan dekade 1960-an. Namun yang
unik di Ngandagan adalah konversi tersebut terjadi pada
tahun 1964, lebih dari setahun sebelum terjadinya peristiwa
“G30S” dan tragedi kemanusiaan yang menyertainya.
Hal ini berbeda dari kasus-kasus konversi di tempat lain
yang kebanyakan terjadi pasca peristiwa “G30S”. Dalam
kasus-kasus ini, maka konversi ke agama Kristen adalah
strategi dalam rangka menghindari pembunuhan massal
dan penangkapan, atau menjadi bagian mekanisme survival
56
bagi para korban yang ditangkap sebagai tahanan politik.
Sementara dalam kasus di desa Ngandagan, konversi itu
mendahului peristiwa “G30S” dan dilakukan sebagai bentuk
perlawanan politik secara aktif.
Terlepas dari latar belakang tersebut, sampai dengan
pertengahan dekade 1970-an, keberadaan agama Katolik di
55. Catatan Gereja S Markus, Ngandagan; Anonim, 75 Tahun Gereja
Santo Yohanes Rasul Kutoarjo, 1935-2010: Menuju Gereja Mandiri,
Berdaya Pikat, dan Missioner. Gereja di Karang Turi, Ngandagan
merupakan bagian dari kerasulan gereja di Kutoarjo.
56. Simak misalnya, Nugroho (2008) dan Nugroho (2009)
124

