Page 148 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 148
Dinamika Politik Nasional di Era 1960-an dan Dampaknya di Desa Ngandagan
3. Pengadilan Soemotirto dan Perubahan Lanskap
Politik di Ngandagan
Pemanfaatan institusi pengadilan untuk mendongkel
kepemimpinan Soemotirto adalah satu bukti bahwa para
penentangnya tidak memiliki basis sosial yang kuat di desa.
Dalam hal ini, penggunaan pengadilan menjadi pilihan
yang sangat strategis dari sudut kepentingan mereka. Sebab,
selain dapat diarahkan untuk menjatuhkan Soemotirto,
langkah tersebut sebenarnya juga merupakan upaya
meminjam kekuasaan negara untuk mendelegitimasikan
visi perubahan sosial progresif yang sedang dilakonkan oleh
desa Ngandagan.
Proses peradilan Soemotirto dimulai pada pertengahan
48
1963 dan berlangsung sebanyak tiga kali persidangan.
Masyarakat mengingat bahwa proses peradilan tersebut
memakan waktu beberapa bulan dan baru berakhir pada
awal tahun 1964. Agaknya selama masa itu pula Soemotirto
harus meringkuk di rumah tahanan di Purworejo. Meskipun
demikian, dukungan warga kepadanya tetap kuat. Selama tiga
kali persidangan itu, penduduk Ngandagan senantiasa datang
berduyun-duyun, baik tua maupun muda, laki-laki ataupun
perempuan. Mereka ramai-ramai pergi ke kota Purworejo
untuk memberi dukungan kepada Soemotirto. 49
48. Sampai saat ini belum diperoleh keterangan yang pasti apakah
Soemotirto diadili oleh Pengadilan Land Reform terkait kasus
pemakaian tanah tanpa ijin, ataukah oleh Pengadilan Negeri biasa
terkait kasus dugaan korupsi.
49. Wawancara dengan Markinah, tanggal 13 Juni 2010. Markinah
merupakan salah seorang yang turut dalam rombongan dukungan
119

