Page 146 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 146

Dinamika Politik Nasional di Era 1960-an dan Dampaknya di Desa Ngandagan


                 Seiring dengan memanasnya kontestasi ideologis di
             daerah, maka penentangan sebagian elit Ngandagan terhadap
             kepemimpinan Soemotirto pun mulai beresonansi dengan
             proses politik yang lebih luas di aras kabupaten. Demikianlah,
             Purwanto mencatat bagaimana para pemilik sawah dari
             luar desa yang dirugikan oleh kebijakan Soemotirto mulai
             gencar menampilkan citra buruk sang lurah kepada para
             pejabat yang ada di atas desa (Purwanto 1985: 40). Hal
             serupa tentunya juga dilakukan oleh para penentang
             Soemotirto dari desa Ngandagan sendiri. Namun, sejauh
             yang dipersoalkan sawah buruhan, kebijakan redistribusi yang
             dijalankan Soemotirto tidak tergoyahkan karena redistribusi
             itu didasarkan pada kewenangan desa atas tanah komunal,
             seperti dikenal dalam aturan hukum adat di wilayah ini.
                 Dalih untuk menjatuhkan Soemotirto muncul
             dari kebijakannya yang lain, yakni berkaitan dengan
             penataan permukiman dan relokasi rumah. Dalam rangka
             mewujudkan permukiman yang rapi dan menyatu,
             Soemotirto memindahkan rumah-rumah warga yang
             masih terpencar-pencar dan mengelompokkannya di pusat
             perkampungan. Posisi rumah di pusat perkampungan ini
             juga diatur agar berjajar rapi dan menghadap ke arah jalan.
             Namun, kebijakan pertanahan semacam ini dia lakukan
             tanpa mengindahkan hak-hak yang sudah ada di atas
             tanah pekarangan yang ditempati relokasi. Padahal, tanah
             pekarangan tidak pernah memiliki asal usul sebagai tanah
             komunal milik desa. Oleh karena itu, tindakan Soemotirto
             merelokasi rumah di atas tanah pekarangan dengan tanpa


                Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 2 Mei 2010.

                                                             117
   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151