Page 155 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 155
Land Reform Lokal A La Ngandagan
C. NGANDAGAN PASCA PERISTIWA “G30S”
dini hari selepas
v
Pada malam 30 September 1965, sebuah “petualangan
politik” terjadi di Jakarta yang mengubah sejarah Indonesia:
tujuh jenderal TNI Angkatan Darat diculik dan dibunuh
oleh sepasukan tentara di bawah pimpinan Letkol Untung.
Seperti diketahui bersama, peristiwa ini kemudian menjadi
titik balik dari perubahan politik nasional berikut tragedi
kemanusiaan yang menyertainya: ratusan ribu bahkan
jutaan rakyat yang dicurigai sebagai anggota PKI dan/
atau organisasi yang dikaitkan dengan PKI dibunuh atau
dipenjarakan. Tanpa proses pengadilan. 57
Saat peristiwa ini terjadi, Soemotirto sudah meninggal
dunia lima bulan sebelumnya. Dan sejak bulan April 1964,
semua warga Ngandagan yang menjadi pengikut PKI—sesuai
perintah Soemotirto sendiri—sudah “hijrah” ke PNI atau
Partai Katolik, terkecuali tiga orang yang memilih tetap
bertahan menjadi anggota PKI, yakni Carik, putrinya, dan
Polisi Desa. Ketiga orang inilah yang sempat ditahan oleh
aparat militer, sementara warga desa Ngandagan selebihnya
boleh dikatakan tidak terusik sama sekali oleh peristiwa
tragedi nasional tersebut.
58
57. Mengenai gelombang pembunuhan massal pasca peristiwa “G30S”
ini, lihat antara lain Cribb (1990, 2001, 2002), Roosa (2006), dan
Farid (2005).
58. Di Kabupaten Purworejo secara keseluruhan, aksi pembunuhan
massal juga lebih terkendali dan korban jiwa yang jatuh juga
tak sebanyak di kabupaten-kabupaten lainnya di Jawa Tengah.
Keberadaan Komandan RPKAD yang memimpin aksi pembersihan
partai komunis ini (Kolonel Sarwo Edhie Wibowo), yang memang
berasal dari Purworejo, tampaknya juga merupakan faktor penting
126

