Page 55 - Menuju Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan yang Berkelanjutan dan Berkeadilan
P. 55
46 Menuju Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan
yang Berkelanjutan dan Berkeadilan
6. Profil Administrasi Pertanahan dan Pemanfaatan Sertipikat sebagai
akses modal
Sebelum tahun 2017, menurut informasi dari hasil wawancara
dengan Pejabat Jogoboyo, yang mengurusi urusan pertanahan di
wilayah kalurahan, menyebutkan bahwa perkiraan jumlah bidang
tanah yang bersertipikat tidak lebih dari 50% bahkan lebih dari
jumlah total bidang tanah yang ada dalam satu kalurahan. Estimasi
jumlah bidang tanah seluruhnya ada pada kisaran 6.000 bidang
tanah, yang terdiri atas berbagai macam status. Namun sejak tahun
2017 hingga tahun 2020, jumlah bidang tanah yang ada di wilayah
Kalurahan Genjahan yang sudah bersertipikat sudah hampir 100%,
artinya tanah yang belum bersertipikat tersebut tidak lebih dari 10
bidang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias
di dalam mendukung program Nasional yaitu Pendaftaran Tanah
Sistematis Lengkap (PTSL). Tentu saja dengan adanya PTSL yang
salah satu tujuannya adalah memperbaiki administrasi pertanahan
dirasa sangat bermanfaat, baik bagi pemegang sertipikat hak atas
tanah itu sendiri maupun aparatur kalurahan.
Selain dalam rangka memperbaiki administrasi pertanahan,
pensertipikatan massal dalam kerangka PTSL juga diharapkan
dapat sebagai “jembatan” bagi pemilik untuk memperoleh akses
modal dengan cara mengagunkan sertipikat di bank. Namun pada
kenyataannya, kondisi yang riil terjadi di Kalurahan Genjahan
belum sampai pada orientasi tersebut. Sertipikat tanah hasil PTSL
cenderung hanya disimpan dan hanya sebagai bukti atas kepemilikan
bidang tanah saja. Sesuai hasil wawancara dengan Pejabat Jogoboyo
pula, dijelaskan bahwa kebutuhan dalam meningkatkan modal usaha
di masyarakat memang ada, namun tidak memanfaatkan sertipikat
sebagai agunan. Masyarakat hanya memanfaatkan kredit usaha dari
program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang transaksinya tanpa perlu
mengagunkan sertipikat bidang tanah. Selain itu, pinjaman ataupun
kredit yang diajukan pun relatif kecil, yaitu paling tinggi hanya
sekitar 1,5 juta rupiah saja.

