Page 3 - HUKUMAN BERBUAH MANIS_Neat
P. 3
Karena semakin kangetnya dengan teriakan tersebut, maka kami pun secara bersamaan langsung
berlari kencang tanpa memperdulikan mangga yang telah kami petik tadinya.
“Ternyata suara tersebut adalah suara pak Mamat” dari semak
Kami pun dikejarnya, lalu terdengar suara “aduhhh ampun. Teriak Imam”
Ternyata teman kami Iman telah ditangkap dan ditahan oleh pak Mamat.
Karena Imam yang paling kecil maka“ Iman” itu dan langkah kakinya memang terlalu pendek.
Karena kesetiaan kami kepada teman sebagai bentuk persahabatan, kami pun bertiga ikut
menyerahkan diri.
“Pak Mamat” hanya menasehati kami agar jangan mencuri lagi karena mencuri itu tidak baik
katanya.
Keesokan harinya pada jam istirahat tepatnya, kami berempat dipanggil masuk ke kantor oleh Ibu
kepala sekolah. Penyampaian ini di sampaikan melalui Ibu wali kelas kami. Guru wali kelas kami
bernama Ibu Rina, beliau ketika mengajar di dalam kelas sangat lemah lembut suaranya ketika
mendidik kami.
“Ibu Rina” Adi, Budi, Imam dan Anto silahkan kalian ke kantor, karena tadi tadi ada penyampaian
oleh Ibu Dewi yang mana beliau adalah Ibu kepala sekolah kami. Tadi sewaktu saya bertemu di
perpustakaan. Harap kalian berempat kesana sekarang nak ya! Karena Ibu kepala sekolah ingin
bertemu sekarang! Katanya.
Kami pun berempat terperanjat kangen, dan saling bertatapan satu dengan lainnya.
Setelah itu kemudian kami menjawab secara bersamaan, baik bu guru.
Lalu kami berempat menuju kantor, tiba disana kami bertanya dalam hati masing-masing sambil
terdiam. Ada apa ya?
“Ibu Dewi” Anak-anak tujuan kalian ibu panggil kemari kira-kira apa kalian sudah tahu atau tidak?
Kami pun menjawab : “Belum tahu bu”. Tadi ada orang tua parubaya yang sempat mengaduhkan
perbuatan kalian kemarin, kami pun tunduk lesu dengan perkataan Ibu Dewi itu.