Page 34 - E-Modul Perubahan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Berbasis ESD
P. 34
20
Pendekatan non-teknis dilakukan dengan penerbitan peraturan sebagai
landasan hukum bagi pengelola badan air dan penghasil limbah,
sosialisasi peraturan, dan penyuluhan pada masyarakat. Sementara itu,
pendekatan teknis dilakukan dengan penyediaan atau pengadaan sarana
dan prasarana penanganan limbah, monitoring, dan evaluasi.
a. Sistem Penanganan Limbah Cair Domestik
Limbah cair domestik ada yang berbahaya, ada pula yang tidak
berbahaya. Limbah cair yang tidak berbahaya, misalnya air bekas cucian
beras dan sayuran, dapat dimanfaatkan untuk menyirami tanaman.
Kegiatan tersebut merupakan contoh konkret dari prinsip pembangunan
berkelanjutan yang terkait dengan SDGs nomor 12 dalam mendorong
pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dengan memanfaatkan
kembali sumber daya yang ada dan mengurangi limbah yang dihasilkan.
Pada bagian ini, kita akan membahas lebih banyak tentang limbah cair
berbahaya, yaitu tinja manusia. Penanganan limbah tinja manusia secara
berkelanjutan dapat dilakukan melalui metode berikut:
1. Pengolahan limbah tinja menggunakan
tangki septik biofilter (up-flow filter), yang
terdiri atas bak pengendap, ruangan yang
berisi media filter (batu pecah, batu apung,
ijuk, dan kerikil), dan ruang resapan (berisi
kerikil, pasir, dan ijuk). Bak pengendap
berfungsi mengendapkan partikel padatan
Gambar 17. Tangki Septik
menjadi lumpur tinja. Air luapan dari bak Biofiler
pengendap dialirkan ke ruang yang berisi (Sumber: mamikos.com)
media filter. Pada permukaan media filter,
tumbuh lapisan tipis mikroorganisme (bakteri
anaerob) yang akan menguraikan bahan
organik dalam limbah cair tersebut.
E-Modul Perubahan dan Pelestarian Lingkungan Hidup - Fase E