Page 29 - Sejarah Kebudayaan Islam MTs Kelas IX
P. 29
1) Adanya kesamaan antara batu nisan Sultan Malik AsSaleh yang merupakan Sultan
Samudera Pasai dan batu nisan Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik dengan batu
nisan yang ada di Cambay, India.
2) Keterangan dari Marcopolo yang pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 M dan
pada saat itu banyak penduduk Perlak yang sudah memeluk Islam, serta pedagang dari
India yang menyebarkan Islam.
Teori Gujarat memiliki kelemahan, ditunjukkan dengan perbedaan mazhab yang dianut
masyarakat Samudera Pasai dengan mazhab yang dianut masyarakat Gujarat. Masyarakat
Samudera Pasai menganut mazhab Syafi’i, sedangkan masyarakat Gujarat menganut mazhab
Hanafi. Sanggahan lainnya yaitu ketika proses islamisasi terjadi di Samudera Pasai, Gujarat
saat itu masih merupakan kerajaan Hindu.
c. Teori Bangladesh
Teori ini dikemukakan oleh S.Q. Fatimi yang menyatakan masuknya Islam ke Indonesia
berasal dari Benggali. Teori ini merupakan sanggahan terhadap teori Gujarat. Fatimi
berpendapat bahwa ada perbedaan antara batu nisan Sultan Malik AsSaleh dengan batu
nisan yang terdapat di Gujarat. Batu nisan tersebut lebih mirip dengan batu nisan yang
terdapat di Benggali. Pendapat ini juga didukung oleh beberapa tokoh yang menguatkan
bahwa Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke11 Masehi dari orang keturunan Benggali.
Teori ini memiliki kelemahan karena adanya perbedaan mazhab yang dianut umat muslim
Indonesia dengan mazhab umat muslim Benggali.
d. Teori Persia
Teori Persia dicetuskan oleh Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat, yang menyata
kan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke7 Masehi, di mana ajaran Islam dibawa
dari Persia (Iran). Pendapat ini didasarkan pada adanya kesamaan budaya Islam di Indonesia
dengan budaya Islam di Persia. Misalnya, dilaksanakannya peringatan 10 Muharam dengan
upacara Tabuik/Tabut di Sumatra Barat. Selain itu, penggunaan istilah bahasa Persia untuk
mengeja huruf Arab. Teori ini memiliki kelemahan sebab pada abad ke7 Masehi, kekuasaan
Islam di Timur Tengah masih di bawah kepemimpinan Daulah Abbasiyah. Oleh karena
itu, tidak memungkinkan ulama dari Persia melakukan penyebaran Islam secara luas ke
Indonesia pada saat itu.
e. Teori Tiongkok
Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh perantau dari
Tiongkok. Teori ini didukung beberapa tokoh, di antaranya Slamet Mulyana, Hamka,
Kong Yuanzhi (sejarawan Tionghoa), dan Sumanto AlQurtuby, yang dikuatkan adanya
sumber yaitu buku Ying-yai Sheng-lan (Peninjauan tentang PantaiPantai Samudra)
yang ditulis oleh Ma Huan dan buku Hsing-cha Sheng-lan (Menikmati Pemandangan
Indah dengan Rakit Sakti) karya Fei Hsin.
Bab I Masuknya Islam di Indonesia 9 9