Page 52 - Cikal Cerita rakyat dari DIY
P. 52

8. Harapan Baru


















                          Setelah  acara  pemakaman  selesai,  para  pengembara  kesenian
                   tledhek  itu  memutuskan  untuk  beristirahat  di  tempat  yang  tidak  terlalu
                   jauh  dari  makam  itu.  Rombongan  itu  pun  berniat  untuk  berhenti  dalam
                   pengembaraannya dan menetap di sekitar makam yang berada di tepi Sungai

                   Kedhung Jaran.

                          “Di sinilah tempat yang kita pilih untuk menetap selamanya.”


                          “Maksud Ki Mangli?” tanya Ki Reksaka.

                          “Kita  tidak  akan  mengembara  lagi  seperti  waktu  yang  telah  lewat.
                   Biarlah semua perjalanan jauh kita dari Hargamulya kita simpan di dalam

                   ingatan kita.”

                          “Apakah kita tidak ingin kembali ke dusun kita itu, Ki?”


                          “Tidak. Aku ingin beristirahat. Usiaku sudah semakin menua. Rasanya
                   aku sudah tidak kuat lagi keluar masuk dusun dan pedesaan. Kasihan juga
                   kuda-kuda  kita.  Mereka  sudah  berbulan-bulan  membawa  kita  naik-turun
                   lembah dan bukit. Mungkin kuda-kuda itu juga perlu istirahat.”


                          “Kalau dipikir benar juga kata pimpinan kita itu. Coba kau bayangkan
                   betapa sudah sangat jauhnya kita dari dusun kita,” Legiman menambahkan.


                          “Aku dulu pernah berpesan kepada Redi, adikku. Kukatakan padanya
                   bahwa ada dua kemungkinan yang menyebabkan aku tidak kembali ke sana.
                   Pertama karena mati dan yang kedua karena aku memutuskan menetap untuk
                   selamanya di suatu tempat.”









                                                          47
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57