Page 27 - Antologi Esai 81
P. 27

Walaupun  dengan  perbedaan  agama  yang  dianutnya  masyarakat  Desa
      Linggoasri  mampu  menciptakan  suasana  harmonis  di  tengah  perbedaan

      keyakinan. Masyarakat Linggoasri terkenal dengan tradisi ritual keagamaan

      yang  masih  dilestarikan,  seperti  legenonan,  nyadran  dan  lain  sebagainya.

      Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh umat Islam, akan tetapi juga diikuti

      oleh  masyarakat  dari  agama  lain  seperti  agama  Hindu.  Masyarakat  ini
      menunjukkan  semangat  toleransi  yang  tinggi.  Hal  ini  menjadikan  Desa

      Linggoasri  sebagai  contoh  nyata  dalam  kehidupan  beragama  yang  rukun,

      tentram  dan  damai.  Di  sini  saya  memiliki  banyak  pengalaman  yang  sangat

      berkesan serta pengalaman yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.

           Di Desa Linggoasri saya berkesempatan mengikuti kegiatan 17 Agustus
      2024  yang  dimana  dari  Pemerintah  Desa  mengadakan  berbagai  kegiatan.

      Kegiatan yang akan saya ceritakan ini merupakan pengalaman yang sangat

      berkesan pada perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Linggoasri

      yaitu tirakatan pada tanggal 16 Agustus 2024 pada malam Sabtu di Balaidesa

      Linggoasri. Dalam kegiatan tersebut masyarakat yang menganut agama Islam
      dan agama Hindu bergabung menjadi satu dan mengadakan acara tirakatan

      bersama  untuk  mendo’akan  para  pahlawan  Indonesia  yang  telah  gugur.

      Kegiatan tersebut dimulai dengan sambutan dari berbagai pihak diantaranya

      ketua pelaksana dan kepala desa. Kemudian dilanjutkan berdo’a dengan tata

      cara  agama  masing  masing  untuk  para  pahlawan  yang  telah  gugur.  Dimulai

      dari masyarakat yang beragama Hindu dengan dipimpin langsung oleh Bapak
      Taswono  dengan  tata  cara  agama  Hindu.  Selanjutnya  bergantian  dengan

      masyarakat  yang  beragama  Islam  dipimpin  langsung  oleh  Bapak  Mustajirin

      dengan tata cara agama Islam.

                Pengalaman  yang  berkesan  selanjutnya  yaitu  saya  berkesempatan

      bertemu  secara  langsung  dengan  seorang  seniman  pembuat  wayang  yang

      bernama  Pak  Rizal  Dukuh  Linggo  Desa  Linggoasri.  Beliau  merupakan  tokoh
      pembuat wayang termuda nomor satu di Pekalongan. Disana saya dan teman

      teman  banyak  belajar  mengenai  wayang  dengan  Pak  Rizal.  Beliau  juga

      menceritakan awal mulanya bisa menjadi pembuat wayang sampai sekarang

      ini. Sejak di bangku SD Pak Rizal sudah suka untuk melukis, dari situlah hobi

      melukisnya di tekuni hingga akhirnya bisa menjadi pembuat wayang seperti
      sekarang. Beliau menjadi seorang seniman pembuat wayang sudah berjalan
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31