Page 148 - FIKIH_MTs_KELAS_ IX_KSKK_2020
P. 148

2)  Hadis Rasulullah Saw.:

                                              ْ
                                                              ْ
                                                                           ْ


                                                                                      َّ
                                                                                          ْ     َّ
                                                                                                   َّ
                                                                                                        َّ
                                                                             ْ




                                )ﻢﻠﺴﻣ ﻩاور(   اهب سأب لّ لاﻗو ةرﺟاؤﻤﻟاب رﻣأو ةﻋرازﻤﻟا ﻦﻋ ىهﻧ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟا ىلﺻ ﻪﻧأ





                            Artinya:”Sesungguhnya  baginda  Nabi  Saw.  melarang  muzara’ah  dan
                            memerintahkan  muajjarah  (akad  sewa).  Beliau  bersabda,  ‘Tidak  apa-apa
                            melakukan muajjarah.” (HR Muslim).

                     b.  Rukun dan syarat ijarat ala al-manafi’
                        1)  Orang yang menyewakan (mu’jir) dan orang yang menyewa (musta’jir).
                            Keduanya harus sudah baligh dan berakal sehat dan mempunyai hak tasharruf
                            (membelanjakan harta). Maka, anak kecil atau orang gila tidak sah melakukan
                            akad  ijarah. Ijarah  juga harus berdasarkan pada asas  suka sama suka  (ridha).
                            Dengan demikian,  jika ada unsur pemaksaan maka ijarah tidak sah.
                        2)  Barang yang disewakan (ain musta’jarah), syaratnya:
                            1)  Manfaat  harus  mutaqawwamah  (bernilai  secara  syariat),  diketahui
                                barangnya dan mampu diserahkan.
                            2)  Manfaat dapat dirasakan oleh pihak penyewa.

                            3)  Barang yang disewakan milik orang yang menyewakan.
                        3)  Nilai sewa (ujrah).

                            Nilai sewa adalah sesuatu yang wajib diberikan oleh penyewa atas kompensasi

                            dari manfaat yang diperoleh di mana harga dan keadaanya jelas. Nilai atau harga
                            sewa di dalam akad ijarah ala al-manfaat (sewa menyewa) harus diketahui, baik

                            dengan melihat secara langsung ataupun disebutkan kriterianya secara lengkap
                            seperti “seratus ribu rupiah”, secara kontan ataupun mengangsur.

                        4)  Ijab dan kabul (sighat).
                            Sighat  adalah  sesuatu  yang  digunakan  untuk  mengungkapakan  maksud  dua

                            pihak yang berakad yakni berupa lafal atau sesuatu yang mewakilinya.

                     c.  Masa berlaku ijarat ala al-manafi’
                         Ijarah bisa berakhir atau batal karena beberapa hal sebagi berikut:

                         1)  Rusaknya barang yang disewakan.

                         2)  Barang  yang  disewakan  tidak  dapat  dimanfaatkan,  misalnya  rumah  yang
                             disewakan roboh atau kendaraan yang disewakan rusak.

                         Di  dalam  kitab  Fathul  Qarib  al-Mujib  dijelaskan  bahwa  akad  sewa  tidak  batal
                         karena  kematian  salah  satu  dari  dua  pihak.  Jika  keduanya  meninggal  sekaligus,

                         maka akad sewa tidak batal sampai masa (waktunya) habis. Oleh karena itu, ahli

               132 FIKIH MADRASAH TSANAWIYAH KELAS IX
   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153