Page 35 - Modul Pembelajaran Analisis Laporan Keuangan
P. 35
Quick Ratio atau Acid Test Ratio sebesar 1,9 kali. Jika rata-rata industri untuk
quick ratio adalah 1,5 kali, maka keadaan perusahaan lebih baik dari
perusahaan yang lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak harus
menjual persediaan bila hendak melunasi utang lancar. Demikian pula
sebaliknya, jika rasio perusahaan di bawah rata-rata industri, maka keadaan
perusahaan lebih buruk dari perusahaan lain. Hal ini menyebabkan perusahaan
harus menjual persediaan untuk melunasi pembayaran utang lancar.
3) Rasio Kas (Cash Ratio)
Rp 15.000 + Rp 36.000
ℎ = = 0,7 atau 70%
Rp 73.000
Cash Ratio sebesar 70%. Jika rata-rata industri untuk cash ratio adalah 50%,
maka keadaan perusahaan lebih baik dari perusahaan lain. Hanya saja perlu
diantisipasi apakah penggunaan kas sudah dilakukan secara optimal karena
rasio kas yang tinggi dicurigai disebabkan oleh manajemen belum melakukan
pengelolaan secara baik, artinya ada kas yang idle (menganggur) atau yang
belum digunakan secara optimal. Hal ini tentu saja dapat merugikan
perusahaan. Sebaliknya, apabila rasio kas di bawah rata-rata industri, kondisi
kurang baik ditinjau dari rasio kas karena untuk membayar kewajiban masih
memerlukan waktu untuk menjual sebagian dari aset lancar lainnya.
Rasio Solvabilitas
1) Debt to Asset Ratio (DAR)
Rp482.000
= = 0,44 atau 44%
Rp 210.000
Debt to Asset Ratio sebesar 44%, menunjukkan bahwa 44% pendanaan
perusahaan dibiayai dengan utang (modal pinjaman). Artinya, setiap Rp 100
pendanaan perusahaan, Rp 44 dibiayai dengan utang dan Rp 56 disediakan
oleh pemegang saham. Jika rata-rata industri 35%, debt to asset ratio
perusahaan masih di atas rata-rata industri sehingga akan sulit bagi perusahaan
untuk memperoleh pinjaman. Kondisi tersebut juga menunjukkan perusahaan
dibiayai hampir separuhnya utang. Jika perusahaan bermaksud menambah
utang, perusahaan perlu menambah dulu ekuitasnya.
31